Showing posts with label Waktu. Show all posts
Showing posts with label Waktu. Show all posts

Sunday, 11 November 2018

Renungan 15 Mei 2016

Pada tanggal tersebut saya lupa sedang merenungkan atau mendoakan apa, namun saya bersyukur bisa menemukan catatan ini lagi untuk menjaga nyala api di hati (yang kadang hendak padam). Tahun itu saya punya banyak waktu merenung di desa-desa yang tak bersinyal dan tak berlistrik. Mungkin itu salah satu faktor pemicu bisa menghasilkan tulisan-tulisan mellow seperti ini.

1. No electricity, no gadgets and lack of other facilities are not a permissive reason to be outdated, unproductive, and uncreative
2. Deadline is no longer about what comes first will be finished first. What is the most emergency or strategic must be prioritized
3. Just because something haven't been taught what haven't been tested doesn't meant it's impossible
4. Words is not just as it is
5. To be positive in attitude is not merely a choice, it's a must in order to motivate our surroundings to be more colorful and cheerfull for better world for child well being
6. No need consensus when declaring the battle toward evils, to declare your mind, and to prove something's right
7. Develop network (formal/informal, at villages/at town, at work/out of work) is vital not only to optimalize the ministry but also to balance your life
8. View is not just as it is. See wider, think deeper and you'll do more
9. Maintaning the community well is never enough. We are not common people of mediocrity. We are exist to BRING them (means: enable community to CREATE, not us create by ourselves) into the more extraordinary phase 
10. Make sure we have enough to love ourselves first before spreading our loves to surroundings to ensure we won't be collapsed while feeding people. Always eat a lot, entertain yourself a lot, pray a lot. 
11. Make sure you are good, strong, stable to be a mirror for others. You are a great mirror when no one left uncertain uncomfort worried shadows of themselves after looking at you.
12. Being opressed in whatever stages at community is a challenge to be broken, not a barrier. We are exist to influence community not to be influenced. 
13. Many people at community, even maybe those who are ideally become our partners, are difficult. Pray a lot for them. Those who are most difficult may be our greatest ally some day.

Saturday, 17 October 2015

Seleksi Peran Skenario A


Siang yang menyengat di pertengahan September lalu bagi saya berkali-kali lipat dari panas yang normal. Hari itu hari Selasa. Saya berjalan kaki hampir seperempat luas desa B. Melintasi rumah-rumah penduduk dan masuk ke rumah-rumah tersebut secara acak, saya mendapatkan banyak cerita menarik dan sambutan yang hangat, di satu rumah disuguhi minum teh, di rumah lain disuguhi susu, akhirnya perjalanan tanpa sarapan dan makan siang itu tetap mengenyangkan.

Di suatu sekolah, saya mampir untuk mengajukan kuesioner kepada beberapa siswanya. Masuk di ruang guru, saya bertemua dengan wakil kepala sekolahnya, Ibu S.  Ia adalah wanita muda yang bertampang agak dingin nan lempeng dot com. Di balik bahasanya yang santun saya bertanya-tanya apa gerangan yang sedang ia pikirkan dalam hati. Saya membayangkan sosok-sosok diplomat, ahli strategi perang hingga ilmuwan-ilmuwan ekstrim di komik-komik dan novel-novel thriller yang biasa saya baca.

Sambil menunggu anak-anak mengisi kuesinonernya, saya duduk di samping Ibu S, mencoba mencari topik obrolan yang pas dengan nyerocos ga abis-abis (ya, walaupun saya kebingungan memikirkan topik yang pas, kenyataannya kata-kata yang keluar dari mulut mengalir lancar). Tanpa sengaja saya menyebut satu nama teman saya yang menjadi rekan sepanitia dalam penyelenggaraan suatu kegiatan kepemudaan di Waingapu. Ibu S tiba-tiba sangat antusias, “Itu teman saya juga!” dia mulai tersenyum senang, “dia mengajak saya juga ikut serta dalam kegiatan itu, tapi karena harus mengajar di sini saya tidak bisa ikut” ia berujar lagi. Jarak dari desanya ke Waingapu memang cukup jauh dengan jarak tempuh 3 hingga 4 jam jika berkendaraan dengan motor. Ia kemudian mengungkapkan tentang mimpinya yang banyak untuk menggerakkan pemuda di desa tempat ia mengajar. Gerakan moral, gerakan doa, kreativitas pemuda dan lainnya. “Sudah lama saya bermimpi untuk melakukan hal-hal tersebut, syukurlah hari ini kita bisa bertemu dan ngobrol seperti ini” Ibu S akhirnya menyalami saya. Saya pun bersyukur di hari yang panas itu saya tetap bersemangat berjalan kaki.

***

Sabtu sore yang teduh, saat sinyal lancar, dan berleha-leha di Waingapu, iseng-iseng saya menelepon Bibi saya yang telah lama tidak saya sms dan telepon. Telepon pertama saya tidak diangkat sehingga saya menelepon A, sepupu saya yang juga anak tunggal Bibi saya ini. “Oh, Mamak lagi jauh dari hanphone, Kak, sebentar telepon lagi, Kak, supaya kukasih tau biar diangkat” ia menjawab telepon saya. Saya pun menelepon Bibi lagi, tidak sampai nada tunggu ketiga, ia mengangkat telpon saya,
“Apa kabar, Nakku?” ia bertanya dari seberang sana dengan suaranya yang anggun. Saya menjawab baik dan membeberkan kegiatan-kegiatan saya akhir-akhir ini plus minta maaf karena sudah sekitar setengah tahun lebih tidak menghubunginya lagi karena kelupaan. Belum lagi saya melanjutkan celotehan saya, Bibi menangis terisak-isak di seberang sana, “Bibi pikir, Kam nggak mau lagi nelepon Bibi…Bibi pikir selama ini Kam marah” Ia menjawab di antara isakan tangisnya.
“Lho? Marah kenapa, Bi?” Saya kebingungan mengingat-ingat masalah apa yang harus membuat saya marah kepadanya. Bibi pun mengingatkan saya kembali saat ia menelepon saya di awal tahun 2015 untuk meminta bantuan sambil menjanjikan sesuatu. Lama setelah itu dia pun tak pernah member kabar kepada saya hingga hari saya meneleponnya di Sabtu sore itu. Saya pun menjelaskan bahwa saya bahkan tidak pernah mengingat hal tersebut termasuk janji dari Bibi.  
“Sudah, Bi, jangan pusing tentang hal-hal seperti itu, lupakan saja” Saya menyambung sambil tertawa. Bibi pun ikut tertawa di ujung sana. Bibi selama setahun terakhir banyak menghabiskan waktunya untuk terapi pemulihan pasca-operasi pengangkatan tumor, ia juga bercerita bagaimana ia harus diet makanan sehat sesuai anjuran dokter agar tumornya tidak aktif kembali. Syukurlah saya meneleponnya hari itu, kalau saya menundanya lebih lama lagi, tak terbayangkan berapa lama Bibi harus lelah terbeban memikirkan hal sepele yang bahkan tidak menjadi concern saya sama sekali.  

***

Hari minggu di bulan September saya dan teman-teman mengunjungi sebuah gereja nun jauh di balik lembah dan bukit. Terletak di sebuah dusun yang 6 kiloan jauhnya dari desa induknya, yang mana desa induknya juga sangat jauh dari Waingapu. Tanpa memperpersiapkan apa-apa selain dari latihan grup vokal dengan teman-teman, kami mengikuti ibadah hari itu dengan teduh. Namun, tanpa disangka-sangka, pada saat Warta Mimbar, pelayan PGI (Pembantu Guru Injil) mengucapkan terima kasih akan kunjungan kami dengan haru. Ia bercerita tentang bagaimana ia menggembalakan jemaatnya yang banyak di dusun itu selama bertahun-tahun dengan keterbatasannya. PGI lulusan SMA di Waingapu tersebut  tak pernah dilatih secara khusus tentang bagaimana cara berkhotbah, ia mempelajari Alkitab di sela-sela kesibukannya sebagai petani. Sesekali ia diminta mengikuti rapat majelis jemaat ke gereja pusat yang ia tempuh dengan berjalan kaki, di saat pertemuan inilah kadang ia bisa berkonsultasi dengan pendetanya tentang permasalahan di jemaatnya yang kompleks, mulai dari masalah kemiskinan, penginjilan dan sebagainya yang selama ini harus ia pecahkan sendiri. Ia bertekad akan menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya semampunya.

***

Sebagai orang yang lumayan lama tinggal di Sumba, saya sering juga ditanyai oleh teman-teman dan kerabat apa yang membuat saya rela dan betah berlama-lama di sini. Sebenarnya kata ‘rela’ kurang tepat juga, karena tidak ada hal yang terlalu besar juga yang saya korbankan untuk tinggal di sini. Kata ‘betah’ pun sama, tidak ada juga penghalang atau gangguan yang besar yang beralasan yang membuat saya harus tidak betah ada di sini. Seorang teman menggoda, “asik ya, bisa jalan-jalan dan senang-senang sambil bantu orang lain” dia pasti bukan tidak sengaja meletakkan frasa ‘sambil bantu orang lain’ untuk menunjukkan bahwa hal tersebut yang sampingan haha. Tentu saya adalah salah satu yang beruntung bisa datang ke Sumba dengan fasilitas, dukungan dan jaminan dari sebuah organisasi yang besar. Bisa dibilang, membantu orang lain adalah main job saya, sehingga kata ‘rela’ dan ‘betah’ kurang pas untuk pekerja seperti saya yang ‘dirawat’ secara penuh oleh organisasi. Saya rasa alasan utamanya adalah kesempatan berharga yang tidak kebetulan.

Entah bagaimana, saya tidak pernah direlokasi selama bertugas di Sumba, padahal status saya adalah staf relokasi yang penempatannya selayaknya di-rolling di berbagai kabupaten/provinsi. Saya yakin ada sebuah skenario agung yang mana saya harus terlibat di dalamnya, entah sampai di babak berapa, tapi selama saya terlibat di dalamnya saya harus selesaikan dengan sungguh-sungguh. seperti melakukannya karena tugas sebagai manusia untuk memampukan manusia lainnya, bukan karena saya bekerja di organisasi kemanusiaan. Seperti melakukannya untuk Tuhan, bukan hanya karena alasan kemanusiaan. Dan tugas itu bukan hanya melakukan semua kebaikan saja, tapi lebih jauh lagi, memilah kebaikan mana yang prioritas digeluti. Semuanya baik, tapi ada yang lebih baik dan paling baik. Melakukan kebaikan di Afrika dengan melakukan kebaikan di Sumba sama-sama baik, tapi tugas kita sebagai pelakon skenario agung tersebut adalah memahami mana peran yang lebih baik dan paling baik menurut Sang Sutradara Agung. Berperan bukan berarti berpura-pura, tapi memaksimalkan potensi-potensi kita dan memfokuskan diri pada hal yang benar-benar dikehendaki-Nya.

Hal-hal yang sepele bagi kita dan mungkin hanya berlalu begitu saja, belum tentu dirasakan sama oleh orang lain. Banyak orang yang sudah merasakan merasakan dampak positif dari pelayanan yang kita lakukan dengan sikap biasa-biasa saja. Saya dapat membayangkan bila hal-hal tersebut dikerjakan dengan sikap dan motivasi pelayanan yang luar biasa. Selamat memerankan yang terbaik!

***

Renungan pribadi  yang agak terlambat untuk membuka awal tahun fiskal ’16 organisasi (Oktober 2015 – September 2016). Biar telat ketimbang enggak sama sekali hehe.

Tuesday, 26 May 2015

Diberu-diberu


Tentang Ibu, Mama, Mamak, Mami, Bunda, selalu punya cerita tersendiri. Kecerewetan, kehebohan, kelemahlembutan, ketelatenan mereka selalu meninggalkan perasaan nano-nano di hati.

Sebulan lalu, saya, adik saya (Peni), dan teman-teman semasa sekolah dan kuliah (Randi dan Paulina) melakukan trekking dadakan di Berastagi sekitarnya. Bukan hanya rutenya yang dadakan, kejutan demi kejutan dadakan pun kami temukan silih berganti sepanjang perjalanan.

Saat menuju Desa Raja Berneh, tempat tinggal Randi, tiba-tiba saja Paulina terlempar dari motor. Karena kaget, baik Paulina maupun kami bertiga hanya melongo lalu berganti-gantian melihat Paulina, jalanan, motor dan ojek yang membonceng Paulina. Karena bingung juga mau diapain akhirnya kami dan Paulina hanya pergi ke Puskesmas untuk memeriksa luka. Kejutan pertama. Kejutan kedua adalah ketika Bidan Puskesmas meminta Paulina mengoleskan minyak urut saja ke luka-lukanya. Jadi tidak ada intervensi negara, dalam hal ini Puskesmas, untuk menyembuhkan lukanya.

Kami  disambut dengan ajakan minum teh oleh Ibu dan abang[1] Randi sesampainya di rumah Randi. Bang S[2], abang Randi, dan Ali, adik laki-laki Randi langsung mengajak kami berdiskusi ke rumah sebelah, kelihatannya serius.

“Kenapa baru datang jam segini?” Bang S, sambil mengepulkan asap rokoknya menuding jam yang sudah menunjukkan jam sepuluh pagi (atau siang). Dia kemudian menjelaskan bahwa untuk menuju tempat tujuan trekking kami itu seharusnya dimulai sejak subuh. Saya menjawab bahwa kami sudah bersedia menginap di tengah jalan dengan membawa tenda (calon) rakitan sendiri dan perlengkapan lain. Ali juga menambahkan bahwa rute trekking tersebut sangat berbahaya dan belum pernah dilewati wisatawan umum. “Lagipula, minimal perbandingan laki-laki dan perempuan setim yang mau naik ke atas harus minimal 50:50” Bang S tidak menerima argument saya bahwa kami bukan perempuan sembarangan, bahwa kami sanggup naik ke sana dan siap tanggung resiko.

“…dan yang paling penting…” Bang S dalam posisi yang paling serius, dan masih menggunakan bahasa Batak Karo yang serius, “Mamak tidak mungkin memberi ijin ke sana…” sambil menunjuk Randi ia masih terus menghisap rokoknya. “sejak kemarin Mamak sudah bersikeras tak akan member Randi ijin ke sana” Randi hanya tertunduk lemas. Saya hanya shock terobek-robek karena sudah sampai di Raja Berneh dalam kondisi flu berat dan batuk, dan dengan ekspektasi yang tinggi. Paulina hanya diam, mungkin karena masih menyesali lengannya yang encok, atau masih bingung memikirkan kenapa ia terjatuh, atau karena memang tidak mengerti bahasa yang kami pakai dalam duplik-replik rute perjalanan tersebut.

“tapi masih bisa diusahakan, kita akan lewat jalur lain saja yang tidak terlalu berbahaya, pasti Mamak mengijinkan, kita ambil jalur pendek saja…” akhirnya Bang S (mungkin) karena tidak tega melihat wajah kami yang kuyu lesu, menawarkan solusi.

Belum sempat kami menarikan tarian hore-hore, Ibu Randi masuk ke ruangan, seperti yang diduga sebelumnya, beliau menolak mentah-mentah ide trekking itu. Bang S, sesuai skenario awal, mengadvokasi Ibu Randi agar memberi ijin dengan mengajukan proposal trekking jalur lain, yang konon, lebih singkat, lebih aman untuk perempuan. Namun, nyatanya Ibu Randi tetap konsisten tidak mengijinkan.

“kalian ini diberu-diberu (perempuan-perempuan), nakku[3]…” Ibu Randi mulai menasehati kami, dengan bahasa Batak Karo, “kurang pas melewati rute itu, itu sepi, banyak binatang buas, banyak setan, belum tentu si S ini bisa menjaga kalian. Saya sarankan kalian ke (gunung) Sibayak saja…”

Saya mulai mendongak tak percaya. Sibayak? Yang benar saja! Itu kan jalur ramai, apalagi saat hari libur, Sibayak hampir mirip lahan piknik yang dipenuhi para ABG dari SMA-SMA dan universitas-universitas Medan sekitarnya. Apa kata dunia, tiga orang professional muda (ditambah satu anak SMA hampir lulus, Si Peni, adik saya) yang (sok) haus petualangan dan orang kampung, harus naik gunung sibayak yang mainstream bingiiitssss dan seperempat perjalanannya bisa ditempuh dengan motooooor? Perjalanan kami harusnya diisi dengan arung jeram, melewati rute misterius dengan tim kecil, itulah defenisi liburan ala professional muda yang sebenarnya (versi Randi). Benar saja, Randi yang juga berpikiran sama, langsung beradu argumen dengan Ibunya. Mula-mula adu argumen itu berjalan layaknya talkshow elit di televisi, lama-kelamaan karena semua pihak makin putus asa, -ditambah Randi berusaha menyenangkan hati kami bertiga, para tamu-, suasana pun makin panas, nada bicara Randi maupun Ibunya makin meninggi meroket namun masih mendayu-dayu khas Karo.

“kalian boleh pergi, tapi kalau ada resiko apa-apa, saya tidak tanggung….” Ibu Randi akhirnya mengeluarkan ultimatum.

Siiiiiing…..
Suasana mendadak hening. Sesaat. Randi langsung melancarkan aksi replik-dupliknya. Berbagai jurus advokasi mulai dari metode  elit mediasi arbitrase dkk yang (ternyata) pernah ia pelajari saat mengambil kelas hukum bisnis, hingga metode paling tidak ilmiah seperti ngambek, balas ultimatum hingga marah-marah mengungkit-ungkit masa lalu sambil mengeluarkan air mata. Tetap saja Ibunya tidak menginjinkan dengan alasan utama merasa bertanggung jawab sebagai orangtua untuk menentukan ke mana anak perempuannya boleh pergi. Kejutan ketiga.

Sebagai penonton, saya, Paulina dan Peni hanya pasrah sambil mendukung Randi dari dalam hati. Terlepas dari fakta bahwa Paulina tidak mengerti bahasa Batak Karo sama sekali.

Singkatnya, akhirnya kami berangkat juga ke Gunung Sibayak setelah menyaksikan perdebatan alot selama 2 jam. Cerita lengkap perjalanan kami ditulis dengan indah, canggih dan elit oleh Paulina di sini. Saya tetap mensyukuri karena walaupun Gunung Sibayak, secara teknis kami tetap trekking alias benar-benar jalan kaki mulai dari rumah Randi hingga ke atas gunung dan pulangnya, ditambah lagi kami masih tetap harus jalan kaki ke sebagian besar destinasi-destinasi lainnya karena tidak menemukan angkutan umum.  

Perjalanan dua hari itu rencananya akan kami tutup dengan tambahan sehari untuk bersenang-senang menurut kebiasaan para professional muda (versi Paulina), yaitu karokean, makan-makan mahal, fitness dan menginap bertiga di hotel agak mahal di Medan. Namun sebelum terlaksana, saya  memanfaatkan hak veto saya seluas-luasnya dengan lebih dulu menolak dua ide terakhir karena kurang ekonomis. Fitness tidak masuk dalam daftar kesenangan saya, sedangkan menginap di hotel tidak membuat saya merasa lebih berbunga-bunga.  Pada dasarnya semua yang mahal dan gak nguatin kantong tidak saya sukai. Haha.

Sebelum berangkat ke Medan, saya meminta Paulina dan Randi ikut meminta ijin ke Ibu saya, sekedar pemberitahuan saja, saya yakin beliau memberi ijin pergi ke anak perempuannya yang mandiri dan telah dewasa ini. Sepanjang pengenalan saya, Ibu saya cukup moderat mendidik anak-anaknya. Apalagi saya hanya pergi sendiri tidak membawa Peni, adik sekaligus asisten serba bisa dan tangan kanan Ibu saya. Jadi, tidak akan ada adegan replik-duplik-zero-achieved yang makan waktu seperti saat di rumah Randi.

“Wah….jalan lagi? 3 hari?” Ibu saya memandang saya tak percaya ketika saya meminta ijin. Wajahnya yang tadinya ceria ketika melihat saya pulang langsung berubah jengkel. “gak kin[4] cukup jalan dua hari sama teman-temanndu[5]? Kam cuman lima hari nya di sini, masak lebih lama di luar daripada sama keluarga? Apalagi Kam masih sakit itu…” Peni masih berusaha membela saya dengan mengatakan bahwa kesempatan saya pulang kampung sangat langka dan harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dan tambahan bahwa flu dan batuk saya tiba-tiba sudah sembuh saat perjalanan ke Sibayak. “yah, tapi terserahndulah itu, kalau mau pergi pun gak bisa juga Mamak paksain, udah dewasa kok…” Ibu saya akhirnya menutup pembicaraan dengan metode umum ladies’ advocacy yang langsung menembak jantung pendengar utamanya. Kejutan keempat.

Saya segera bernegosiasi dengan Paulina dan Randi, membatalkan rencana hari ketiga kami, mengunjungi Enon, sahabat sejak SMP kami, yang baru melahirkan anak laki-lakinya, ditambah dengan mengajak makan malam murah meriah sebagai kompensasi ala professional muda (versi saya). Paulina tetap saja grumbling kepada keputusan last minute saya yang dihitungnya sebagai perencanaan dan keputusan paling plin-plan sepanjang tahun. Randi mencoba membesarkan hati saya dengan menekankan bahwa bersama-sama dengan keluarga adalah yang paling utama, apalagi dalam kunjungan pulang kampung yang sangat singkat ini. Bersenang-senang bersama teman-teman bisa dilakukan kapan saja.  Paulina masih tetap pada posisi Squidy versus Spongebob dan Patrick dengan mengingatkan Saya dan Randi bahwa perubahan-perubahan rencana liburan kami disebabkan karena masalah komunikasi kami yang kurang lancar dengan Ibu masing-masing.

Whatever lah, Paulina! Yang penting saya sudah bebas dari masa-masa kritis membuat keputusan hari itu. Dan mendapatkan empat kejutan dan banyak pencerahan dari Diberu-diberu[6] sepanjang hari-hari tersebut. Hahaha.



[1] Kakak laki-laki
[2] Namanya diinisialkan saja, demi efisiensi dan privasi
[3] Anakku: sapaan khas Batak Karo
[4] Kah: partikel khas Batak Karo
[5] Teman-temanmu: dialek Batak Karo
[6] Bahasa Batak Karo, artinya: Perempuan-perempuan

Monday, 11 May 2015

Apong


Tau Shinchan kan? Iya, yang lucu, menggemaskan, agak botak, pipi agak gembung. Kalau lihat Shinchan berikutnya pasti saya ingat Apong.

Saya mengenalnya baru sekitar setahunan terakhir. Apong, anak sekolah minggu yang masih berusia empat tahunan, belum lagi terdaftar di PAUD/TK terdekat, cadel tapi cerewet, suka tidak tenang saat jam doa, tapi sangat semangat mengikuti sekolah minggu. Jika saya pulang saat hari terang, setiap melihat saya dari kejauhan, dia meloncat-loncat dan meneriaki nama saya. Ketika saya makin mendekat biasanya dia makin cuek, makin dekat lagi biasanya volume suaranya memanggil nama saya makin mengecil sambil ia menutup sebelah matanya. Haha. Masih ada yang lucu, setiap berdoa di sekolah minggu, matanya selalu tidak sepenuhnya tertutup, hanya menyipit sambil mendongak ke atas, sepertinya ingin tau apa yang terjadi ketika semua orang berdoa. Ketika saya berjalan mendekatinya, kepalanya akan makin tertunduk dan matanya akan menjadi makin menyipit, menunjukkan ia sudah benar-benar berdoa, walaupun ia tetap membuka sedikiiiiit sekali matanya untuk melihat apa yang terjadi di bawah ketika sedang berdoa. Hahaha.

Apong mengetuk pintu kosan saya seminggu setelah saya pertama kali mengajar sekolah minggu. Sebelumnya saya sering melihat dia di gang kos saya, tapi saya baru tahu kalau ia ternyata tinggal di belakang kos saya. “Kaka Pinceeeee……” suaranya yang cempreng dan cara mengetuk pintunya yang tak teratur mau tidak mau membuat saya langsung membuka pintu. Begitu saya mempersilahkan ia masuk, ia langsung berlari menuju meja saya (yang sebenarnya lebih sering tidak kelihatan seperti meja saking beraneka ragamnya barang yang bertumpuk di atasnya haha), “Ini biskuit to ka Pince to?” ia menunjuk bungkusan-bungkusan biskuit yang saya jejalkan ke container snack saya. Saya langsung memberi dia satu bungkus biskuit tersebut, dan tanpa ba-bi-bu lagi dia langsung bersorak dan lari meninggalkan saya begitu saja dan pamer ke teman-temannya. Teman-temannya berebut meminta biskuit tersebut, “kalau kamu mau itu minta ke ka Pince sana too, de pu pintu rumah masih terbuka ituuu…” saya mendengar suara cempreng Apong bersabda di luar sana.

Sejak saat itu, setiap saya pulang agak terang, Apong dan teman-temannya berganti-gantian datang ke kos meminta biskuit, cokelat atau apa saja, sehingga saya pun akhirnya berganti strategi, dari yang awalnya memberi langsung sebungkus menjadi dua keeping biskuit per orang. Kapanpun saya pulang agak terang, saya tak bisa istirahat lagi, ketukan pintu tak teratur dari anak-anak balita sekitar rumah selalu mengusik untuk saya keluar dan bak sinterklas membagi-bagi biskuit serta variannya. Dampak lainnya lagi adalah setiap jam 3 sore geng balita beranggotakan Apong, Mone dan Desta pasti sudah nongkrong di teras kos saya bermain rumah-rumahan atau apa saja sambil menanti biskuit. Biasanya kalau saya datang mereka langsung tersenyum lebar sambil berkata, “Kaka Pince, kami sudah kasih bersih Ka Pince pu rumah naaa…” sambil menyapu-nyapu teras seadanya.

Saya mulai menghentikan aksi sinterklas itu ketika suatu sore, saat Apong dan geng datang lagi ke kos untuk meminta biskuit. Saya sudah mau mengambil biskuit ke kamar ketika Bapak kos yang kebetulan lewat menegur saya, “udah, Pin, jangan dikasih terus, entar kebiasaan. Udah…udah…kamu pulang dulu sana…” Bapak kos langsung mengantar anak-anak ke gerbang. Dalam hati saya merasa agak malu juga, selama ini saya hanya menuruti maunya mereka saja, tanpa pernah dibalas dengan ucapan terima kasih dari mereka, tanpa pernah peduli mereka datang dalam keadaan masih lusuh dan tanpa pernah peduli jam makan malam mereka di keluarga. Saya ingat suatu kali persediaan biskuit saya habis, saat itu Apong datang ke kosan dan meminta biskuit, ketika saya menjelaskan bahwa biskuit habis, ia langsung protes tidak percaya, “eee…Ka Pince omong kosong, pasti ada naaaaa….” Saya tersadar selama ini tanpa sengaja saya memanjakan tanpa mendisiplinkan mereka.

Minggu berikutnya, saya memanggil Apong yang kebetulan bolak-balik di depan teras kamar saya, “Apong, sini dulu ke Ka Pince….” Ia langsung tersenyum lebar menjemput saya. Dia baru ingin meminta biskuit lagi ketika saya langsung menyela, “Apong su mandi?” ia menggangguk, dan saya lihat memang sore ini wajahnya bersih sekali, “Apong, kalau datang ke rumah orang lain, bagus tidak kalau langsung main minta biskuit?” dia tersenyum malu-malu lalu menggeleng. “Baik sudah, besok kalau datang ke rumah siapapun ketuk pintu pelan-pelan e, jangan gluduk-gluduk kayak ada mau bapukul e? Kalau orangnya tidak menyahut berarti ada istirahat, berarti tidak boleh diganggu e?” dia mengangguk lagi. “Kalau orang kasih biskuit baru terima e? Tidak boleh baminta…” dia menggangguk lagi. Saya masuk ke dalam lalu memberi ia biskuit. Dia langsung tersenyum lebar dan hendak berlari setelah menerima biskuit. “Apong, jangan pergi dulu, sini…” saya masih berlutut setinggi dia. “Kalau orang su kasih sesuatu, terus Apong senang atau tidak?” ia menggangguk sambil tersenyum malu-malu. “Terus kalau senang, bagaimana sudah? Bilang apa?” saya menatap Apong. “Terima kasih Ka Pince….” Ia sambil tersenyum malu-malu menyalami saya. “…sekarang Apong pulang sudah, tunggu makan malam sama-sama dengan Mama e?” Ia menggangguk lagi. “Daaaaah Ka Pinceeee….” Katanya sambil berlari.

Sejak saat itu, Apong mengetuk pintu kos saya dengan teratur. Kadang-kadang saat saya capai sekali, saya keluar sebentar dan meminta Apong dan teman-temannya pulang ke rumah masing-masing karena saya mau istirahat. Dan mereka pun menurut dengan patuh. Jika Apong dan teman-temannya datang ke kosan, mereka tidak pernah lagi meminta biskuit, biasanya mereka melihat saya pulang dan menyapa saya (sambil senyum-senyum penuh harap diberi biskuit lagi hehe), kadang saya memberikan biskuit, kadang tidak.  Tapi yang pasti balita Apong, Mone dan Desta tetap manis dan tidak protes. Setiap saya memberikan biskuit, tanpa diberi aba-aba mereka serempak mengucapkan terima kasih.

***

Saya sudah lupa berapa minggu sudah dalam 3 bulan terakhir saya absen sekolah minggu, alasan andalan saya adalah karena harus bekerja di hari minggu, mulai mengatur acara, pembicara, kegiatan fellowship bersama teman-teman sekantor, sampai kelelahan dan akhirnya sakit di hari minggu, dan di antaranya terselip juga alasan malas yang amat parah (haha). Yang terakhir saya ingat adalah ketika suatu sore, saat saya masih terkena flu parah, Apong sedang bermain kelereng di depan gerbang kos saya dan langsung berdiri begitu menyadari saya datang, “Ka Pince minggu kemarin ke mana? Kenapa tidak ikut sekolah minggu?” saking kagetnya saya sampai bingung mau menjawab apa, biasanya pertanyaan itu yang saya lontarkan ke Apong kalau saya tak melihatnya di sekolah minggu. “Oh...Ka Pince ada sakit…” saya menanggapi protesnya lemah, karena tidak sepenuhnya benar, masak ada sakit flu yang sampe berminggu-minggu sih? Haha.

Hari minggu sebelum keberangkatan saya ke Bali, saya mengajar di sekolah minggu. Di perjalanan pulang bersama rekan guru sekolah minggu, saya menyadari sesuatu. Apong tidak hadir. Sesungguhnya sudah beberapa hari saya pulang agak terang dan tidak mendapati dia bermain kelereng atau sekedar berteriak-teriak memanggil nama saya di jalan gang. Saya baru tersadar selama beberapa hari personil geng balita berkurang satu. Saya menanyakan keberadaan Apong ke guru sekolah minggu yang kenal dekat dengan keluarganya.

“Oh, Sa kira Ka Pince su tau na, Apong su dua minggu ada kembali ke Tanarara…” rekan guru sekolah minggu itu bercerita bahwa tempat yang Apong tinggali selama ini adalah rumah dari kerabat dari pihak ibunya. Ibunya sendiri adalah wanita muda single parent yang berasal dari desa dan selama ini membesarkan Apong, anak tunggalnya, dengan bekerja di Waingapu. Apong dititip ke rumah kerabatnya yang lain di desa yang letaknya sekitar lima jam perjalanan melewati jalanan berbukit berbatu dari Waingapu. Yang saya sendiri tidak yakin apakah di sana ada PAUD atau tidak. Apakah sekarang di sana sudah ada SMP dan SMA, saya meragukan. Menurut rekan guru sekolah minggu ini, Apong dititip bergantian di keluarga untuk merawatnya, kebetulan saat ini keluarga di desa itulah yang siap merawatnya. Sementara Ibunya sendiri memilih untuk bekerja ke kecamatan lain di luar Waingapu.

Apong akan tetap dicintai, didoakan, hidup utuh seutuhnya melalui orang-orang dewasa di lingkungannya, melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi, menjadi transformer yang berintegritas bagi desanya, bagi Sumba Timur. Amin.