Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Sunday, 11 November 2018

Renungan 15 Mei 2016

Pada tanggal tersebut saya lupa sedang merenungkan atau mendoakan apa, namun saya bersyukur bisa menemukan catatan ini lagi untuk menjaga nyala api di hati (yang kadang hendak padam). Tahun itu saya punya banyak waktu merenung di desa-desa yang tak bersinyal dan tak berlistrik. Mungkin itu salah satu faktor pemicu bisa menghasilkan tulisan-tulisan mellow seperti ini.

1. No electricity, no gadgets and lack of other facilities are not a permissive reason to be outdated, unproductive, and uncreative
2. Deadline is no longer about what comes first will be finished first. What is the most emergency or strategic must be prioritized
3. Just because something haven't been taught what haven't been tested doesn't meant it's impossible
4. Words is not just as it is
5. To be positive in attitude is not merely a choice, it's a must in order to motivate our surroundings to be more colorful and cheerfull for better world for child well being
6. No need consensus when declaring the battle toward evils, to declare your mind, and to prove something's right
7. Develop network (formal/informal, at villages/at town, at work/out of work) is vital not only to optimalize the ministry but also to balance your life
8. View is not just as it is. See wider, think deeper and you'll do more
9. Maintaning the community well is never enough. We are not common people of mediocrity. We are exist to BRING them (means: enable community to CREATE, not us create by ourselves) into the more extraordinary phase 
10. Make sure we have enough to love ourselves first before spreading our loves to surroundings to ensure we won't be collapsed while feeding people. Always eat a lot, entertain yourself a lot, pray a lot. 
11. Make sure you are good, strong, stable to be a mirror for others. You are a great mirror when no one left uncertain uncomfort worried shadows of themselves after looking at you.
12. Being opressed in whatever stages at community is a challenge to be broken, not a barrier. We are exist to influence community not to be influenced. 
13. Many people at community, even maybe those who are ideally become our partners, are difficult. Pray a lot for them. Those who are most difficult may be our greatest ally some day.

Monday, 31 October 2016

Refornita The Reformer

Saya punya beberapa teman yang kesan pertamanya versus kenyataannya sangat signifikan. Salah satunya adalah Kak Vonny. Pertama kali bertemu kak vonny di kantor tempat saya bertugas, kak vonny menunjukkan sikap lemah lembut dan mbak-mbak banget. Apalagi sebelum bertemu Kak Vonny, saya mendengar dari teman satu batch saya di organisasi, Kak Ibeth, bahwa Kak Vonny adalah rekan sepersekutuannya di Yogyakarta dan juga merupakan mantan staf di persekutuan tersebut. Imej saya tentang Kak Vonny pun makin terbentuk sebagai sosok kakak-kakak persekutuan yang lemah lembut dan bijaksana.

Tak perlu waktu lama untuk mengetahui kebenaran bahwa Kak Vonny ternyata adalah sosok yang heboh, terlalu heboh dan cerewet level internasional. Berbanding terbalik dengan usianya yang tak lagi muda, namun sesuai dengan raut wajahnya yang kekanak-kanakan, tingkahnya pun kadang kekanak-kanakan. Sering ia tertawa keras-keras sampai lupa kalau di rumah dia masih punya tugas rutin merawat babi yang belum dia penuhi. Jika berbicara di depan umum kerap tingkah lakunya bagai anak SMP, tersenyum malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kalau berdebat sesuatu yang tidak penting ia sering ngotot seperti anak SD yang sedang memperdebatkan tokoh game favorit mereka. Sering juga ia malas tau terhadap mitra-mitra kerjanya di lapangan yang nota bene mitra-mitra formal. Kalau ada mitra-mitra yang menjengkelkan, maka tanpa diplomasi ba bi bu lagi ia langsung ceplas-ceplos mengungkapkan kejengkelannya melalui raut wajah maupun kata-kata.

Saya akhirnya lupa dengan imej awal saya tentang Kak Vonny sebagai sosok kakak persekutuan yang lemah lembut dan bijaksana. Kadang-kadang Kak Vonny juga suka menasehati saya dan menjebak saya untuk curcol haha. Terutama waktu itu Kak Vonny sering menasehati saya tentang jam doa. Waktu itu saya sempat mengungkapkan pada Kak Vonny bahwa saya kesal sekali jika disuruh berdoa pagi dan merasa tersiksa melewati jam ibadah pagi. Namun Kak Vonny tidak menunjukkan kekesalan sedikitpun pada saya, malah ia memaklumi dan menanggapinya dengan candaan. Kak Vonny juga waktu itu sering bilang ke saya, “Kau itu macam pandangan kosong kalau orang omong na. Saya tau kau itu tidak bodoh, tapi coba kau lebih seimbangkan kau punya pengetahuan itu dengan spiritual juga…” biasanya saya tidak suka diatur-atur seperti itu, tapi karena Kak Vonny menyampaikannya dengan cara yang sangat kasual jadinya saya nyaman-nyaman saja mendengarnya dan agak mempertimbangkan kata-katanya juga, dan pasti sebelum itu dia berdoa banyak buat saya. Sampai suatu waktu oleh Kak Vonny dan Kak Ibeth yang menyusul datang ke Sumba saya dikenalkan dengan teman-teman persekutuannya dan diajak ikut cell group. Saya lupa waktu itu saya diajak atau saya yang maksa ikutan haha.

Entah bagaimana, lambat laun saya merasakan significant change yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin karena banyak bergaul intens dengan Kak Vonny dan Kak Ibeth, apalagi tak lama setelah itu Kak Renny, salah satu rekan persekutuan mereka juga bergabung di organisasi kami sebagai volunteer media. Pernah suatu malam saya mendengar lagu rohani (yang saya tidak tau judulnya apa dan belum pernah dengar juga sebelumnya) sampai menangis sesenggukan. Kalau disuruh menjelaskan refleksi saya tentang lagu tersebut, saya juga susah mengungkapkannya dengan kalimat yang hebat heboh keren. Entah bagaimana, karena kejadian itu pertama kali terjadi dalam hidup saya. Bagaikan sinergi konspiratif, tahun itu saya mendapatkan energi yang besar yang berbeda seperti tahun sebelumnya. Biasanya saya memang enerjik, tapi tahun itu berbeda. Saya mulai menulis visi misi pribadi, mulai menulis 100 mimpi yang tidak lagi sekedar berpusat pada diri sendiri (nyatanya sampai saat ini baru tertulis 40an mimpi hehe). Tiba-tiba saya punya keinginan kuat untuk ikut kegiatan-kegiatan pemuda di gereja. Saya sampai pernah 3 kali bolak-balik rumah pendeta dalam seminggu untuk janji ketemuan saja untuk ngobrol bikin komunitas pemuda di gereja. Padahal aslinya saya tidak sabaran menunggu hasil. Tahun itu juga saya tiba-tiba punya keinginan kuat mengajar sekolah minggu, punya keinginan kuat mementor anak-anak muda. Tahun itu juga semangat saya menggebu-gebu menyelenggarakan seminar kepemimpinan untuk pemuda. Kadang jadi tukang ketik, jadi panitia beres-beres meja yang mana itu sangat-sangat bukan saya banget.

Saya pikir tahun itu memang banyak orang yang mendoakan saya, termasuk pimpinan saya. Tapi sepertinya Kak Vonny waktu itu berdoa khusyuk buat saya. Di waktu-waktu luang Kak Vonny sering menyeletuk, “Kau itu lama-lama nanti jadi misionaris sudah…” awalnya saya anggap lelucon saja. Tapi lama-lama karena sering diucapkan, walaupun dengan nada bercanda, saya jadi horror sendiri. Dalam pikiran saya, saya masih butuh uang yang banyak dan berencana hanya mau mengabdi di organisasi selama 2 tahun setelah itu loncat ke lautan emas haha. Pernah juga dia dan Kak Ibeth mengolok-olok saya tak akan direlokasi lagi seperti staf relokasi umumnya. Dan memang benar, tahun kedua saat teman se-batch saya dipindahkan, saya tak urung dipindahkan ke daerah lain. Hingga ke tahun-tahun berikutnya. Haha.

Kak Vonny telah banyak memuridkan orang. Saya rasa kunci keberhasilan pemuridannya adalah terletak pada konsistensinya, tiap subuh ia selalu memulai aktivitas dengan doa dan renungan. Walaupun dalam banyak hal ia terkesan impulsif, dalam mengambil keputusan-keputusan penting ia sangat sabar dan berpasrah diri pada Tuhan melalui rutinitas komunikasinya dengan Tuhan. Kadang ia sampai menangis sedih dan menangis bahagia akan kesedihan dan kebahagiaan anak-anak didiknya di Forum Anak Sumba Timur. Mungkin karena ia sangat dekat dengan anak-anak tersebut bukan hanya secara fisik namun juga secara rohani ia mendoakan anak-anak satu persatu.

Dan memang Kak Vonny adalah sosok kakak persekutuan yang lemah lembut dan perhatian itu. Jika ia bepergian ke luar kota, bagaikan emak-emak professional, ia selalu pulang membawa oleh-oleh untuk teman-teman kantor, teman-teman persekutuan dan anak-anak. Saya yang kadang tak pernah berpikir akan dibawakan hadiah juga sering kecipratan. Di cell group, Kak Vonny adalah orang yang paling sering mengambil peran sebagai emak-emak, dia selalu tanggap akan ulang tahun anggota, selalu punya ide membuat orang bahagia, paling hobi memasak kalau cell group diadakan di rumahnya, paling suka ngompor-ngomporin atau menjebak orang-orang untuk curcol haha. Bagi saya ada bagusnya juga karena kadang saya pun kurang ngeh kalau saya sedang bermasalah. Paling siap sedia dan semangat kalau dikompor-komporin jadi mak comblang (selama saya kenal Kak Vonny, dia sudah menyomblangin lebih dari 10 pasangan) walaupun dirinya sendiri sampai sekarang jomblo terus. Haha. Ke-impulsif-annya tak berlaku dalam urusan percintaan. Dalam hal ini, walaupun ia punya fans club dengan anggota lumayan banyak, ia sangat taat menunggu hasil diskusinya dengan Tuhan.

Anyway, selamat panjang umur, Kak Vonny! Sesuai dengan namanya, Refornita, Kak Vonny, sadar atau tanpa ia sadari, dengan kecerewetannya dan kasualitasannya yang berkualitas telah berhasil mereformasi hidup anak-anak muda menjadi hidup yang bersinar bagi Tuhan. Salah satunya adalah saya, walaupun belum sempurna seperti yang ia doakan hehe.

31 Oktober 2016 - Waingapu





Saturday, 5 March 2016

(Another version of) Trust is Treasure



Jam 7 suatu jumat pagi, saya buru-buru harus memenuhi janji temu dengan seorang mitra yang tinggal agak jauh dari kantor saya. Pagi itu teman-teman kantor masih menikmati jam olah raga pagi, sehingga saya mencari ojek di depan kantor. Tidak jauh dari kantor, duduk di atas batu, seorang Bapak tua berperawakan mongol berkaos putih dan celana tanggung dengan sebuah motor di sampingnya. Dia melihat saya sambil berujar sesuatu seperti “ojek?”, walaupun gaya Bapak tersebut agak mencurigakan, saya tetap mengasumsikan ia adalah ojek sehingga saya meminta Bapak tersebut mengantarkan saya ke alamat yang diminta. Di tengah perjalanan saya sempat memikirkan beberapa jurus melarikan diri dari atas motor kalau-kalau om ojek ini bertindak macam-macam.

“Nona, ini su to dem tempat?” om ojek tiba-tiba berhenti. Saya melihat sekeliling, Saking seriusnya saya memikirkan alternatif-alternatif penyelamatan diri, saya tidak sadar telah tiba di tujuan.
“Benar su om, bae su” saya turun sambil merogoh dompet ingin mengeluarkan uang.
“Biar sudah saya tunggu Nona di luar sini saja sampai selesai” Om ojek menolak saya memberikan uang. Kecurigaan saya pun makin meruncing.
“..tapi saya masih lama om, bisa setengah jam” saya memberi alasan.
“iya, biar sudah tidak apa-apa, saya tunggu saja” Om ojek masih ngotot. Yang membuat saya makin curiga adalah kengototannya yang agak gugup, persis penipu. “Pagi begini masih susah cari ojek, biar su saya tunggu saja, tidak lama” Om ojek seperti menjawab kecurigaan saya. Saya mulai menimbang-nimbang, demi alas an kepraktisan saya malas juga harus cari ojek lagi setelah ini, lagipula jarak dari tempat ini ke kantor saya hanya maksimal 2 kilo, dan agak ramai, plus saya masih bisa melompat dari motor kalau dia macam-macam, plus saya sedang membawa kunci kamar saya, yang nota bene mainan kuncinya agak runcing dan bisa saya manfaatkan untuk mengunci gerakan om ojek ini kalau dia macam-macam, plus alasan pembenar lainnya yang ada di kepala saya saat itu. Akhirnya saya mengiyakan dan langsung buru-buru ke rumah mitra yang telah berjanji bertemu dengan saya.

Tepat setengah jam setelahnya, pembicaraan itu selesai dan saya menuju tempat tunggu om ojek. Benar, ternyata Om ojek masih ada di sana menunggu. “Sudah selesai, Nona?” Om ojek masih sempat bertanya sebelum kami berangkat kembali ke kantor. Di perjalanan, kecurigaan saya belum juga hilang. Dengan posisi awas saya masih memikirkan alternatif penyelamatan diri (haha). Sambil juga memikirkan bagaimana jika saya tiba di kantor lebih dari jam 8, yang artinya saya akan telat, yang arti lainnya juga saya akan dipotong cuti setengah hari.

Kecurigaan dan kekhawatiran saya terhenti sejenak ketika motor tiba-tiba berhenti. Namun alarm tubuh saya makin awas.

“Di sini di kantor to, Nona?” Om ojek menoleh. Lagi-lagi, saking sibuknya berkutat dengan pikiran, saya tidak sadar sudah berada di depan kantor. “Oh iya om” saya melangkah turun dan melihat isi dompet. Saya mulai panik karena ternyata isi dompet adalah lembaran uang seratus ribuan  “Wah om…maaf saya tidak ada uang kecil, pakai uang seratus ribu boleh kah?” saya sambil membolak-balik dompet berharap ada uang sepuluh ribu yang terselip. Tanpa ba-bi-bu, om ojek langsung membuka dompet dan memilah-milah lembaran uang di dalamnya. Tanpa sengaja saya melirik isi dompetnya, ternyata ada banyak lembaran seratus ribuan, lima puluh ribuan, sepuluh ribuan, hingga lima ribuan. Saya sempat berpikiran jangan-jangan itu semua adalah uang palsu. Namun, pemikiran itu agak sirna karena lembaran-lembaran tersebut terlihat agak kusam, seperti hasil dari transaksi dagang di lapangan. Saya bersyukur ada uang sepuluh ribuan di dalamnya, karena paling tidak uang seratus ribu saya tidak akan dikembalikan dengan uang lima puluh ribu dengan alasan tidak cukup ‘uang kecil’ (haha).

“Ini, Nona…” Om ojek menyerahkan saya sejumlah uang, saya menghitung dengan cepat, jumlahnya Sembilan puluh lima ribu rupiah.
“eh…ini kebanyakan om,” saya mengembalikan sepuluh ribu lagi ke om ojek.
“Tidak…tidak, pas sudah itu…terlalu banyak lagi itu…” Om ojek menolah uang dari saya. “Pas sudah, ojek hanya lima ribu saja sebenarnya, kan hanya dekat saja” ia memberi alasan.
“tapi tadi itu kan om tunggu selama setengah jam…” saya masih ngotot dengan sepuluh ribu  di tangan kanan untuk diserahkan ke Om ojek. Om ojek tetap mengelak.
“…tidak bisa, Nona…itu tarif sudah itu, mana kita mau bikin-bikin tarif lagi…pas sudah…sama saja” “……waduh, terima kasih su e, om…” dengan masih agak bingung, akhirnya saya menarik uang sepuluh ribu itu dan menyimpan kembalian uang sebanyak Sembilan puluh lima ribu itu kembali ke dalam dompet. Om ojek pun akhirnya pergi setelah saya berterima kasih yang kedua kalinya.

Saya sempat menceritakan keajaiban hari itu –Om Ojek berwajah Mongol beruang banyak-- ke beberapa teman dan iseng-iseng kami memperhatikan uang kembalian, ternyata uang itu adalah uang asli (haha). “Mungkin pekerjaan utamanya adalah pedagang, nyambi ojek, makanya masih pagi uangnya sudah banyak” salah satu teman saya berkomentar. Sepulang rumah, selesai berganti pakaian, saya masih memeriksa pakaian kantor saya, jangan-jangan ada penyadap suara yang tertempel atau alat spionase lainnya, ternyata tida ada satu pun. Benar ternyata bahwa Om Ojek tersebut bukanlah agen mata-mata seperti yang saya duga.

Oya, Saya akhirnya masuk kantor tepat waktu. Sambil melangkah ke ruangan dengan kebingungan, saya masih mencerna kejadian barusan. Banyak hal yang mencurigakan dari Om ojek tersebut, namun pada akhirnya tak satupun dari kecurigaan saya terbukti, malah sebaliknya om Ojek bermotivasi dan berbuat baik terhadap saya. Saya baru sadar saya belum sempat mensyukuri kejadian tadi dan belum juga meminta maaf (kepada Tuhan) atas prasangka buruk saya.

Sekali lagi, Trust is Treasure, bijak-bijaklah meletakkannya!


Note: "Trust is Treasure" pernah menjadi judul postingan saya dengan pengalaman sejenis:  http://pincekeliat.blogspot.co.id/2014/01/trust-is-treasure.htmlhttp://pincekeliat.blogspot.co.id/2014/01/trust-is-treasure.html


Saturday, 17 October 2015

Seleksi Peran Skenario A


Siang yang menyengat di pertengahan September lalu bagi saya berkali-kali lipat dari panas yang normal. Hari itu hari Selasa. Saya berjalan kaki hampir seperempat luas desa B. Melintasi rumah-rumah penduduk dan masuk ke rumah-rumah tersebut secara acak, saya mendapatkan banyak cerita menarik dan sambutan yang hangat, di satu rumah disuguhi minum teh, di rumah lain disuguhi susu, akhirnya perjalanan tanpa sarapan dan makan siang itu tetap mengenyangkan.

Di suatu sekolah, saya mampir untuk mengajukan kuesioner kepada beberapa siswanya. Masuk di ruang guru, saya bertemua dengan wakil kepala sekolahnya, Ibu S.  Ia adalah wanita muda yang bertampang agak dingin nan lempeng dot com. Di balik bahasanya yang santun saya bertanya-tanya apa gerangan yang sedang ia pikirkan dalam hati. Saya membayangkan sosok-sosok diplomat, ahli strategi perang hingga ilmuwan-ilmuwan ekstrim di komik-komik dan novel-novel thriller yang biasa saya baca.

Sambil menunggu anak-anak mengisi kuesinonernya, saya duduk di samping Ibu S, mencoba mencari topik obrolan yang pas dengan nyerocos ga abis-abis (ya, walaupun saya kebingungan memikirkan topik yang pas, kenyataannya kata-kata yang keluar dari mulut mengalir lancar). Tanpa sengaja saya menyebut satu nama teman saya yang menjadi rekan sepanitia dalam penyelenggaraan suatu kegiatan kepemudaan di Waingapu. Ibu S tiba-tiba sangat antusias, “Itu teman saya juga!” dia mulai tersenyum senang, “dia mengajak saya juga ikut serta dalam kegiatan itu, tapi karena harus mengajar di sini saya tidak bisa ikut” ia berujar lagi. Jarak dari desanya ke Waingapu memang cukup jauh dengan jarak tempuh 3 hingga 4 jam jika berkendaraan dengan motor. Ia kemudian mengungkapkan tentang mimpinya yang banyak untuk menggerakkan pemuda di desa tempat ia mengajar. Gerakan moral, gerakan doa, kreativitas pemuda dan lainnya. “Sudah lama saya bermimpi untuk melakukan hal-hal tersebut, syukurlah hari ini kita bisa bertemu dan ngobrol seperti ini” Ibu S akhirnya menyalami saya. Saya pun bersyukur di hari yang panas itu saya tetap bersemangat berjalan kaki.

***

Sabtu sore yang teduh, saat sinyal lancar, dan berleha-leha di Waingapu, iseng-iseng saya menelepon Bibi saya yang telah lama tidak saya sms dan telepon. Telepon pertama saya tidak diangkat sehingga saya menelepon A, sepupu saya yang juga anak tunggal Bibi saya ini. “Oh, Mamak lagi jauh dari hanphone, Kak, sebentar telepon lagi, Kak, supaya kukasih tau biar diangkat” ia menjawab telepon saya. Saya pun menelepon Bibi lagi, tidak sampai nada tunggu ketiga, ia mengangkat telpon saya,
“Apa kabar, Nakku?” ia bertanya dari seberang sana dengan suaranya yang anggun. Saya menjawab baik dan membeberkan kegiatan-kegiatan saya akhir-akhir ini plus minta maaf karena sudah sekitar setengah tahun lebih tidak menghubunginya lagi karena kelupaan. Belum lagi saya melanjutkan celotehan saya, Bibi menangis terisak-isak di seberang sana, “Bibi pikir, Kam nggak mau lagi nelepon Bibi…Bibi pikir selama ini Kam marah” Ia menjawab di antara isakan tangisnya.
“Lho? Marah kenapa, Bi?” Saya kebingungan mengingat-ingat masalah apa yang harus membuat saya marah kepadanya. Bibi pun mengingatkan saya kembali saat ia menelepon saya di awal tahun 2015 untuk meminta bantuan sambil menjanjikan sesuatu. Lama setelah itu dia pun tak pernah member kabar kepada saya hingga hari saya meneleponnya di Sabtu sore itu. Saya pun menjelaskan bahwa saya bahkan tidak pernah mengingat hal tersebut termasuk janji dari Bibi.  
“Sudah, Bi, jangan pusing tentang hal-hal seperti itu, lupakan saja” Saya menyambung sambil tertawa. Bibi pun ikut tertawa di ujung sana. Bibi selama setahun terakhir banyak menghabiskan waktunya untuk terapi pemulihan pasca-operasi pengangkatan tumor, ia juga bercerita bagaimana ia harus diet makanan sehat sesuai anjuran dokter agar tumornya tidak aktif kembali. Syukurlah saya meneleponnya hari itu, kalau saya menundanya lebih lama lagi, tak terbayangkan berapa lama Bibi harus lelah terbeban memikirkan hal sepele yang bahkan tidak menjadi concern saya sama sekali.  

***

Hari minggu di bulan September saya dan teman-teman mengunjungi sebuah gereja nun jauh di balik lembah dan bukit. Terletak di sebuah dusun yang 6 kiloan jauhnya dari desa induknya, yang mana desa induknya juga sangat jauh dari Waingapu. Tanpa memperpersiapkan apa-apa selain dari latihan grup vokal dengan teman-teman, kami mengikuti ibadah hari itu dengan teduh. Namun, tanpa disangka-sangka, pada saat Warta Mimbar, pelayan PGI (Pembantu Guru Injil) mengucapkan terima kasih akan kunjungan kami dengan haru. Ia bercerita tentang bagaimana ia menggembalakan jemaatnya yang banyak di dusun itu selama bertahun-tahun dengan keterbatasannya. PGI lulusan SMA di Waingapu tersebut  tak pernah dilatih secara khusus tentang bagaimana cara berkhotbah, ia mempelajari Alkitab di sela-sela kesibukannya sebagai petani. Sesekali ia diminta mengikuti rapat majelis jemaat ke gereja pusat yang ia tempuh dengan berjalan kaki, di saat pertemuan inilah kadang ia bisa berkonsultasi dengan pendetanya tentang permasalahan di jemaatnya yang kompleks, mulai dari masalah kemiskinan, penginjilan dan sebagainya yang selama ini harus ia pecahkan sendiri. Ia bertekad akan menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya semampunya.

***

Sebagai orang yang lumayan lama tinggal di Sumba, saya sering juga ditanyai oleh teman-teman dan kerabat apa yang membuat saya rela dan betah berlama-lama di sini. Sebenarnya kata ‘rela’ kurang tepat juga, karena tidak ada hal yang terlalu besar juga yang saya korbankan untuk tinggal di sini. Kata ‘betah’ pun sama, tidak ada juga penghalang atau gangguan yang besar yang beralasan yang membuat saya harus tidak betah ada di sini. Seorang teman menggoda, “asik ya, bisa jalan-jalan dan senang-senang sambil bantu orang lain” dia pasti bukan tidak sengaja meletakkan frasa ‘sambil bantu orang lain’ untuk menunjukkan bahwa hal tersebut yang sampingan haha. Tentu saya adalah salah satu yang beruntung bisa datang ke Sumba dengan fasilitas, dukungan dan jaminan dari sebuah organisasi yang besar. Bisa dibilang, membantu orang lain adalah main job saya, sehingga kata ‘rela’ dan ‘betah’ kurang pas untuk pekerja seperti saya yang ‘dirawat’ secara penuh oleh organisasi. Saya rasa alasan utamanya adalah kesempatan berharga yang tidak kebetulan.

Entah bagaimana, saya tidak pernah direlokasi selama bertugas di Sumba, padahal status saya adalah staf relokasi yang penempatannya selayaknya di-rolling di berbagai kabupaten/provinsi. Saya yakin ada sebuah skenario agung yang mana saya harus terlibat di dalamnya, entah sampai di babak berapa, tapi selama saya terlibat di dalamnya saya harus selesaikan dengan sungguh-sungguh. seperti melakukannya karena tugas sebagai manusia untuk memampukan manusia lainnya, bukan karena saya bekerja di organisasi kemanusiaan. Seperti melakukannya untuk Tuhan, bukan hanya karena alasan kemanusiaan. Dan tugas itu bukan hanya melakukan semua kebaikan saja, tapi lebih jauh lagi, memilah kebaikan mana yang prioritas digeluti. Semuanya baik, tapi ada yang lebih baik dan paling baik. Melakukan kebaikan di Afrika dengan melakukan kebaikan di Sumba sama-sama baik, tapi tugas kita sebagai pelakon skenario agung tersebut adalah memahami mana peran yang lebih baik dan paling baik menurut Sang Sutradara Agung. Berperan bukan berarti berpura-pura, tapi memaksimalkan potensi-potensi kita dan memfokuskan diri pada hal yang benar-benar dikehendaki-Nya.

Hal-hal yang sepele bagi kita dan mungkin hanya berlalu begitu saja, belum tentu dirasakan sama oleh orang lain. Banyak orang yang sudah merasakan merasakan dampak positif dari pelayanan yang kita lakukan dengan sikap biasa-biasa saja. Saya dapat membayangkan bila hal-hal tersebut dikerjakan dengan sikap dan motivasi pelayanan yang luar biasa. Selamat memerankan yang terbaik!

***

Renungan pribadi  yang agak terlambat untuk membuka awal tahun fiskal ’16 organisasi (Oktober 2015 – September 2016). Biar telat ketimbang enggak sama sekali hehe.

Tuesday, 26 May 2015

Diberu-diberu


Tentang Ibu, Mama, Mamak, Mami, Bunda, selalu punya cerita tersendiri. Kecerewetan, kehebohan, kelemahlembutan, ketelatenan mereka selalu meninggalkan perasaan nano-nano di hati.

Sebulan lalu, saya, adik saya (Peni), dan teman-teman semasa sekolah dan kuliah (Randi dan Paulina) melakukan trekking dadakan di Berastagi sekitarnya. Bukan hanya rutenya yang dadakan, kejutan demi kejutan dadakan pun kami temukan silih berganti sepanjang perjalanan.

Saat menuju Desa Raja Berneh, tempat tinggal Randi, tiba-tiba saja Paulina terlempar dari motor. Karena kaget, baik Paulina maupun kami bertiga hanya melongo lalu berganti-gantian melihat Paulina, jalanan, motor dan ojek yang membonceng Paulina. Karena bingung juga mau diapain akhirnya kami dan Paulina hanya pergi ke Puskesmas untuk memeriksa luka. Kejutan pertama. Kejutan kedua adalah ketika Bidan Puskesmas meminta Paulina mengoleskan minyak urut saja ke luka-lukanya. Jadi tidak ada intervensi negara, dalam hal ini Puskesmas, untuk menyembuhkan lukanya.

Kami  disambut dengan ajakan minum teh oleh Ibu dan abang[1] Randi sesampainya di rumah Randi. Bang S[2], abang Randi, dan Ali, adik laki-laki Randi langsung mengajak kami berdiskusi ke rumah sebelah, kelihatannya serius.

“Kenapa baru datang jam segini?” Bang S, sambil mengepulkan asap rokoknya menuding jam yang sudah menunjukkan jam sepuluh pagi (atau siang). Dia kemudian menjelaskan bahwa untuk menuju tempat tujuan trekking kami itu seharusnya dimulai sejak subuh. Saya menjawab bahwa kami sudah bersedia menginap di tengah jalan dengan membawa tenda (calon) rakitan sendiri dan perlengkapan lain. Ali juga menambahkan bahwa rute trekking tersebut sangat berbahaya dan belum pernah dilewati wisatawan umum. “Lagipula, minimal perbandingan laki-laki dan perempuan setim yang mau naik ke atas harus minimal 50:50” Bang S tidak menerima argument saya bahwa kami bukan perempuan sembarangan, bahwa kami sanggup naik ke sana dan siap tanggung resiko.

“…dan yang paling penting…” Bang S dalam posisi yang paling serius, dan masih menggunakan bahasa Batak Karo yang serius, “Mamak tidak mungkin memberi ijin ke sana…” sambil menunjuk Randi ia masih terus menghisap rokoknya. “sejak kemarin Mamak sudah bersikeras tak akan member Randi ijin ke sana” Randi hanya tertunduk lemas. Saya hanya shock terobek-robek karena sudah sampai di Raja Berneh dalam kondisi flu berat dan batuk, dan dengan ekspektasi yang tinggi. Paulina hanya diam, mungkin karena masih menyesali lengannya yang encok, atau masih bingung memikirkan kenapa ia terjatuh, atau karena memang tidak mengerti bahasa yang kami pakai dalam duplik-replik rute perjalanan tersebut.

“tapi masih bisa diusahakan, kita akan lewat jalur lain saja yang tidak terlalu berbahaya, pasti Mamak mengijinkan, kita ambil jalur pendek saja…” akhirnya Bang S (mungkin) karena tidak tega melihat wajah kami yang kuyu lesu, menawarkan solusi.

Belum sempat kami menarikan tarian hore-hore, Ibu Randi masuk ke ruangan, seperti yang diduga sebelumnya, beliau menolak mentah-mentah ide trekking itu. Bang S, sesuai skenario awal, mengadvokasi Ibu Randi agar memberi ijin dengan mengajukan proposal trekking jalur lain, yang konon, lebih singkat, lebih aman untuk perempuan. Namun, nyatanya Ibu Randi tetap konsisten tidak mengijinkan.

“kalian ini diberu-diberu (perempuan-perempuan), nakku[3]…” Ibu Randi mulai menasehati kami, dengan bahasa Batak Karo, “kurang pas melewati rute itu, itu sepi, banyak binatang buas, banyak setan, belum tentu si S ini bisa menjaga kalian. Saya sarankan kalian ke (gunung) Sibayak saja…”

Saya mulai mendongak tak percaya. Sibayak? Yang benar saja! Itu kan jalur ramai, apalagi saat hari libur, Sibayak hampir mirip lahan piknik yang dipenuhi para ABG dari SMA-SMA dan universitas-universitas Medan sekitarnya. Apa kata dunia, tiga orang professional muda (ditambah satu anak SMA hampir lulus, Si Peni, adik saya) yang (sok) haus petualangan dan orang kampung, harus naik gunung sibayak yang mainstream bingiiitssss dan seperempat perjalanannya bisa ditempuh dengan motooooor? Perjalanan kami harusnya diisi dengan arung jeram, melewati rute misterius dengan tim kecil, itulah defenisi liburan ala professional muda yang sebenarnya (versi Randi). Benar saja, Randi yang juga berpikiran sama, langsung beradu argumen dengan Ibunya. Mula-mula adu argumen itu berjalan layaknya talkshow elit di televisi, lama-kelamaan karena semua pihak makin putus asa, -ditambah Randi berusaha menyenangkan hati kami bertiga, para tamu-, suasana pun makin panas, nada bicara Randi maupun Ibunya makin meninggi meroket namun masih mendayu-dayu khas Karo.

“kalian boleh pergi, tapi kalau ada resiko apa-apa, saya tidak tanggung….” Ibu Randi akhirnya mengeluarkan ultimatum.

Siiiiiing…..
Suasana mendadak hening. Sesaat. Randi langsung melancarkan aksi replik-dupliknya. Berbagai jurus advokasi mulai dari metode  elit mediasi arbitrase dkk yang (ternyata) pernah ia pelajari saat mengambil kelas hukum bisnis, hingga metode paling tidak ilmiah seperti ngambek, balas ultimatum hingga marah-marah mengungkit-ungkit masa lalu sambil mengeluarkan air mata. Tetap saja Ibunya tidak menginjinkan dengan alasan utama merasa bertanggung jawab sebagai orangtua untuk menentukan ke mana anak perempuannya boleh pergi. Kejutan ketiga.

Sebagai penonton, saya, Paulina dan Peni hanya pasrah sambil mendukung Randi dari dalam hati. Terlepas dari fakta bahwa Paulina tidak mengerti bahasa Batak Karo sama sekali.

Singkatnya, akhirnya kami berangkat juga ke Gunung Sibayak setelah menyaksikan perdebatan alot selama 2 jam. Cerita lengkap perjalanan kami ditulis dengan indah, canggih dan elit oleh Paulina di sini. Saya tetap mensyukuri karena walaupun Gunung Sibayak, secara teknis kami tetap trekking alias benar-benar jalan kaki mulai dari rumah Randi hingga ke atas gunung dan pulangnya, ditambah lagi kami masih tetap harus jalan kaki ke sebagian besar destinasi-destinasi lainnya karena tidak menemukan angkutan umum.  

Perjalanan dua hari itu rencananya akan kami tutup dengan tambahan sehari untuk bersenang-senang menurut kebiasaan para professional muda (versi Paulina), yaitu karokean, makan-makan mahal, fitness dan menginap bertiga di hotel agak mahal di Medan. Namun sebelum terlaksana, saya  memanfaatkan hak veto saya seluas-luasnya dengan lebih dulu menolak dua ide terakhir karena kurang ekonomis. Fitness tidak masuk dalam daftar kesenangan saya, sedangkan menginap di hotel tidak membuat saya merasa lebih berbunga-bunga.  Pada dasarnya semua yang mahal dan gak nguatin kantong tidak saya sukai. Haha.

Sebelum berangkat ke Medan, saya meminta Paulina dan Randi ikut meminta ijin ke Ibu saya, sekedar pemberitahuan saja, saya yakin beliau memberi ijin pergi ke anak perempuannya yang mandiri dan telah dewasa ini. Sepanjang pengenalan saya, Ibu saya cukup moderat mendidik anak-anaknya. Apalagi saya hanya pergi sendiri tidak membawa Peni, adik sekaligus asisten serba bisa dan tangan kanan Ibu saya. Jadi, tidak akan ada adegan replik-duplik-zero-achieved yang makan waktu seperti saat di rumah Randi.

“Wah….jalan lagi? 3 hari?” Ibu saya memandang saya tak percaya ketika saya meminta ijin. Wajahnya yang tadinya ceria ketika melihat saya pulang langsung berubah jengkel. “gak kin[4] cukup jalan dua hari sama teman-temanndu[5]? Kam cuman lima hari nya di sini, masak lebih lama di luar daripada sama keluarga? Apalagi Kam masih sakit itu…” Peni masih berusaha membela saya dengan mengatakan bahwa kesempatan saya pulang kampung sangat langka dan harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dan tambahan bahwa flu dan batuk saya tiba-tiba sudah sembuh saat perjalanan ke Sibayak. “yah, tapi terserahndulah itu, kalau mau pergi pun gak bisa juga Mamak paksain, udah dewasa kok…” Ibu saya akhirnya menutup pembicaraan dengan metode umum ladies’ advocacy yang langsung menembak jantung pendengar utamanya. Kejutan keempat.

Saya segera bernegosiasi dengan Paulina dan Randi, membatalkan rencana hari ketiga kami, mengunjungi Enon, sahabat sejak SMP kami, yang baru melahirkan anak laki-lakinya, ditambah dengan mengajak makan malam murah meriah sebagai kompensasi ala professional muda (versi saya). Paulina tetap saja grumbling kepada keputusan last minute saya yang dihitungnya sebagai perencanaan dan keputusan paling plin-plan sepanjang tahun. Randi mencoba membesarkan hati saya dengan menekankan bahwa bersama-sama dengan keluarga adalah yang paling utama, apalagi dalam kunjungan pulang kampung yang sangat singkat ini. Bersenang-senang bersama teman-teman bisa dilakukan kapan saja.  Paulina masih tetap pada posisi Squidy versus Spongebob dan Patrick dengan mengingatkan Saya dan Randi bahwa perubahan-perubahan rencana liburan kami disebabkan karena masalah komunikasi kami yang kurang lancar dengan Ibu masing-masing.

Whatever lah, Paulina! Yang penting saya sudah bebas dari masa-masa kritis membuat keputusan hari itu. Dan mendapatkan empat kejutan dan banyak pencerahan dari Diberu-diberu[6] sepanjang hari-hari tersebut. Hahaha.



[1] Kakak laki-laki
[2] Namanya diinisialkan saja, demi efisiensi dan privasi
[3] Anakku: sapaan khas Batak Karo
[4] Kah: partikel khas Batak Karo
[5] Teman-temanmu: dialek Batak Karo
[6] Bahasa Batak Karo, artinya: Perempuan-perempuan