Saya punya beberapa teman yang kesan pertamanya versus kenyataannya sangat signifikan. Salah satunya adalah Kak Vonny. Pertama kali bertemu kak vonny di kantor tempat saya bertugas, kak vonny menunjukkan sikap lemah lembut dan mbak-mbak banget. Apalagi sebelum bertemu Kak Vonny, saya mendengar dari teman satu batch saya di organisasi, Kak Ibeth, bahwa Kak Vonny adalah rekan sepersekutuannya di Yogyakarta dan juga merupakan mantan staf di persekutuan tersebut. Imej saya tentang Kak Vonny pun makin terbentuk sebagai sosok kakak-kakak persekutuan yang lemah lembut dan bijaksana.
Tak perlu waktu lama untuk mengetahui kebenaran bahwa Kak Vonny ternyata adalah sosok yang heboh, terlalu heboh dan cerewet level internasional. Berbanding terbalik dengan usianya yang tak lagi muda, namun sesuai dengan raut wajahnya yang kekanak-kanakan, tingkahnya pun kadang kekanak-kanakan. Sering ia tertawa keras-keras sampai lupa kalau di rumah dia masih punya tugas rutin merawat babi yang belum dia penuhi. Jika berbicara di depan umum kerap tingkah lakunya bagai anak SMP, tersenyum malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kalau berdebat sesuatu yang tidak penting ia sering ngotot seperti anak SD yang sedang memperdebatkan tokoh game favorit mereka. Sering juga ia malas tau terhadap mitra-mitra kerjanya di lapangan yang nota bene mitra-mitra formal. Kalau ada mitra-mitra yang menjengkelkan, maka tanpa diplomasi ba bi bu lagi ia langsung ceplas-ceplos mengungkapkan kejengkelannya melalui raut wajah maupun kata-kata.
Saya akhirnya lupa dengan imej awal saya tentang Kak Vonny sebagai sosok kakak persekutuan yang lemah lembut dan bijaksana. Kadang-kadang Kak Vonny juga suka menasehati saya dan menjebak saya untuk curcol haha. Terutama waktu itu Kak Vonny sering menasehati saya tentang jam doa. Waktu itu saya sempat mengungkapkan pada Kak Vonny bahwa saya kesal sekali jika disuruh berdoa pagi dan merasa tersiksa melewati jam ibadah pagi. Namun Kak Vonny tidak menunjukkan kekesalan sedikitpun pada saya, malah ia memaklumi dan menanggapinya dengan candaan. Kak Vonny juga waktu itu sering bilang ke saya, “Kau itu macam pandangan kosong kalau orang omong na. Saya tau kau itu tidak bodoh, tapi coba kau lebih seimbangkan kau punya pengetahuan itu dengan spiritual juga…” biasanya saya tidak suka diatur-atur seperti itu, tapi karena Kak Vonny menyampaikannya dengan cara yang sangat kasual jadinya saya nyaman-nyaman saja mendengarnya dan agak mempertimbangkan kata-katanya juga, dan pasti sebelum itu dia berdoa banyak buat saya. Sampai suatu waktu oleh Kak Vonny dan Kak Ibeth yang menyusul datang ke Sumba saya dikenalkan dengan teman-teman persekutuannya dan diajak ikut cell group. Saya lupa waktu itu saya diajak atau saya yang maksa ikutan haha.
Entah bagaimana, lambat laun saya merasakan significant change yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin karena banyak bergaul intens dengan Kak Vonny dan Kak Ibeth, apalagi tak lama setelah itu Kak Renny, salah satu rekan persekutuan mereka juga bergabung di organisasi kami sebagai volunteer media. Pernah suatu malam saya mendengar lagu rohani (yang saya tidak tau judulnya apa dan belum pernah dengar juga sebelumnya) sampai menangis sesenggukan. Kalau disuruh menjelaskan refleksi saya tentang lagu tersebut, saya juga susah mengungkapkannya dengan kalimat yang hebat heboh keren. Entah bagaimana, karena kejadian itu pertama kali terjadi dalam hidup saya. Bagaikan sinergi konspiratif, tahun itu saya mendapatkan energi yang besar yang berbeda seperti tahun sebelumnya. Biasanya saya memang enerjik, tapi tahun itu berbeda. Saya mulai menulis visi misi pribadi, mulai menulis 100 mimpi yang tidak lagi sekedar berpusat pada diri sendiri (nyatanya sampai saat ini baru tertulis 40an mimpi hehe). Tiba-tiba saya punya keinginan kuat untuk ikut kegiatan-kegiatan pemuda di gereja. Saya sampai pernah 3 kali bolak-balik rumah pendeta dalam seminggu untuk janji ketemuan saja untuk ngobrol bikin komunitas pemuda di gereja. Padahal aslinya saya tidak sabaran menunggu hasil. Tahun itu juga saya tiba-tiba punya keinginan kuat mengajar sekolah minggu, punya keinginan kuat mementor anak-anak muda. Tahun itu juga semangat saya menggebu-gebu menyelenggarakan seminar kepemimpinan untuk pemuda. Kadang jadi tukang ketik, jadi panitia beres-beres meja yang mana itu sangat-sangat bukan saya banget.
Saya pikir tahun itu memang banyak orang yang mendoakan saya, termasuk pimpinan saya. Tapi sepertinya Kak Vonny waktu itu berdoa khusyuk buat saya. Di waktu-waktu luang Kak Vonny sering menyeletuk, “Kau itu lama-lama nanti jadi misionaris sudah…” awalnya saya anggap lelucon saja. Tapi lama-lama karena sering diucapkan, walaupun dengan nada bercanda, saya jadi horror sendiri. Dalam pikiran saya, saya masih butuh uang yang banyak dan berencana hanya mau mengabdi di organisasi selama 2 tahun setelah itu loncat ke lautan emas haha. Pernah juga dia dan Kak Ibeth mengolok-olok saya tak akan direlokasi lagi seperti staf relokasi umumnya. Dan memang benar, tahun kedua saat teman se-batch saya dipindahkan, saya tak urung dipindahkan ke daerah lain. Hingga ke tahun-tahun berikutnya. Haha.
Kak Vonny telah banyak memuridkan orang. Saya rasa kunci keberhasilan pemuridannya adalah terletak pada konsistensinya, tiap subuh ia selalu memulai aktivitas dengan doa dan renungan. Walaupun dalam banyak hal ia terkesan impulsif, dalam mengambil keputusan-keputusan penting ia sangat sabar dan berpasrah diri pada Tuhan melalui rutinitas komunikasinya dengan Tuhan. Kadang ia sampai menangis sedih dan menangis bahagia akan kesedihan dan kebahagiaan anak-anak didiknya di Forum Anak Sumba Timur. Mungkin karena ia sangat dekat dengan anak-anak tersebut bukan hanya secara fisik namun juga secara rohani ia mendoakan anak-anak satu persatu.
Dan memang Kak Vonny adalah sosok kakak persekutuan yang lemah lembut dan perhatian itu. Jika ia bepergian ke luar kota, bagaikan emak-emak professional, ia selalu pulang membawa oleh-oleh untuk teman-teman kantor, teman-teman persekutuan dan anak-anak. Saya yang kadang tak pernah berpikir akan dibawakan hadiah juga sering kecipratan. Di cell group, Kak Vonny adalah orang yang paling sering mengambil peran sebagai emak-emak, dia selalu tanggap akan ulang tahun anggota, selalu punya ide membuat orang bahagia, paling hobi memasak kalau cell group diadakan di rumahnya, paling suka ngompor-ngomporin atau menjebak orang-orang untuk curcol haha. Bagi saya ada bagusnya juga karena kadang saya pun kurang ngeh kalau saya sedang bermasalah. Paling siap sedia dan semangat kalau dikompor-komporin jadi mak comblang (selama saya kenal Kak Vonny, dia sudah menyomblangin lebih dari 10 pasangan) walaupun dirinya sendiri sampai sekarang jomblo terus. Haha. Ke-impulsif-annya tak berlaku dalam urusan percintaan. Dalam hal ini, walaupun ia punya fans club dengan anggota lumayan banyak, ia sangat taat menunggu hasil diskusinya dengan Tuhan.
Anyway, selamat panjang umur, Kak Vonny! Sesuai dengan namanya, Refornita, Kak Vonny, sadar atau tanpa ia sadari, dengan kecerewetannya dan kasualitasannya yang berkualitas telah berhasil mereformasi hidup anak-anak muda menjadi hidup yang bersinar bagi Tuhan. Salah satunya adalah saya, walaupun belum sempurna seperti yang ia doakan hehe.
31 Oktober 2016 - Waingapu
Monday, 31 October 2016
Monday, 14 March 2016
Dukung Mencontek!
"Saya mendukung siswa yang mencontek dalam ujian...." Anarara, salah satu pengurus kelompok anak dari Desa Tawui menyatakan pendapatnya dan menantang lawannya berargumen.
Anarara, gadis kecil yang dibesarkan dalam keluarga beragama yang taat, disiplin yang kuat dan aktif dalam kegiatan-kegiatan positif di desanya dan bercita-cita menjadi Pendeta,
tentu tak pernah sekalipun mendukung semua bentuk kecurangan yang dilakukan siswa saat ujian. Ia mengemukakan kalimat tersebut untuk mengajari pengurus desa lainnya yang lebih 'hijau' dalam debat. Akhir Februari lalu, tiga puluhan pengurus anak dari empat desa di Kecamatan Pinupahar: Ramuk, Mahaniwa, Wanggabewa dan Tawui berkumpul selama dua hari di Tawui untuk mengikuti kamp pengurus kelompok anak. Dalam kamp tersebut selain mereka disegarkan dengan devosi mengenai kejujuran dan pengembangan bakat, anak-anak juga diberi materi-materi penunjang yaitu: Debating skills, writing skills dan event organizing skills. Hal ini bertujuan meningkatkan kepercayaan diri mereka dan meningkatkan kualitas kepanitiaan mereka dalam menangani acara-acara kreativitas anak yang sering mereka selenggarakan di desa masing-masing.
Ini adalah kali pertama anak-anak berdebat secara formal. Mosi yang dipakai adalah "Sidang ini percaya bahwa siswa menerima jawaban ujian dari guru saat ujian nasional diperbolehkan". Apalagi sistem yang digunakan adalah Asian Parlementary Debate, di mana setiap tim terdiri atas 3 orang, masing-masing pada tim Affirmative (pro) dan Negative (kontra). Awalnya anak-anak takut-takut mengungkapkan mengungkapkan argumen mereka. Khususnya setiap pembicara pertama tiap tim yang diberi waktu bicara lebih lama. Masalah klasik anak-anak ini adalah takut salah dan takut ditertawakan oleh teman lainnya jika mereka salah bicara. Namun, kami sepakat agar tidak ada anak yg boleh tertawa saat temannya berdebat. Dan semua anak diberi kesempatan berdebat dengan metode ini. Lambat laun, mereka mulai percaya diri sampai-sampai batas waktu bicara yang diberikan tak dirasa cukup oleh para debater cilik ini.
Bagi anak sendiri, debat memiliki daya tarik sendiri karena mereka akhirnya punya kesempatan berbicara dan mendebat pemikiran teman lainnya dengan cara yang santun. Satu hal yang sulit karena banyak anak yang terbiasa mendebat temannya bahkan sebelum temannya selesai berbicara. Melalui debat mereka juga belajar mendengar dan menghargai pendapat orang lain serta berpikir logis. Akhirnya, waktu untuk sesi debat terpaksa diperpanjang karena antusiasme anak untuk berdebat susah dibendung hehe.
Diam-diam saya merasa sedikit iri kepada mereka yang masih kecil tapi berani melawan ketakutan mereka sendiri dan berani mendebat walalupun baru saja belajar tentang apa itu debat. Saya teringat ketika saya pertama kali berdebat di kampus, di usia yang jauh lebih tua dari mereka dan bagaimana saya dan tim sampai salah mempersiapkan mosi debat karena panik yang kelewat besar.
Pengharapan saya terhadap mereka, calon-calon pemimpin masa depan ini tetap tinggi. Saya membayangkan tahun depan mereka bisa mendebat orang-orang dewasa di desa mereka saat musrenbangdes dalam memperjuangkan hak-hak anak. Mereka akan mempersiapkan 'mosi' mereka dengan baik, menyiapkan data-data pendukung tentang keadaan siswa dan gap pendidikan di desa mereka. Mereka juga akan mendebat bila ada kepala desa yang menganggap kegiatan-kegiatan yang mendukung minat dan bakat anak adalah pemborosan. Mereka juga akan memperjuangkan agar prioritas pembangunan di desa bukan hanya pembangunan fisik tapi terlebih pembangunan mental dan karakter generasi, terutama anak-anak yang rentang hidupnya lebih panjang. Mereka akan memperjuangkan agar guru-guru aktif di sekolah, agar transportasi dari rumah ke sekolah mereka difasilitasi, agar mereka tak perlu berangkat dari rumah jam 5 pagi dan tiba di rumah jam 4 sore dengan peluh dan lapar karena jarak yang jauh, agar lomba-lomba minat bakat di desa diperbanyak, agar pembinaan di sanggar-sanggar anak di desa diperbanyak, agar beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi diperbanyak.
Anak-anak layak diperjuangkan haknya bukan karena mereka objek, mereka adalah subjek perjuangan itu sendiri.
Mereka adalah Generasi Sumba Bersinar, mereka sedang berlari menuju masa depan yang bersinar.
Anarara, gadis kecil yang dibesarkan dalam keluarga beragama yang taat, disiplin yang kuat dan aktif dalam kegiatan-kegiatan positif di desanya dan bercita-cita menjadi Pendeta,
tentu tak pernah sekalipun mendukung semua bentuk kecurangan yang dilakukan siswa saat ujian. Ia mengemukakan kalimat tersebut untuk mengajari pengurus desa lainnya yang lebih 'hijau' dalam debat. Akhir Februari lalu, tiga puluhan pengurus anak dari empat desa di Kecamatan Pinupahar: Ramuk, Mahaniwa, Wanggabewa dan Tawui berkumpul selama dua hari di Tawui untuk mengikuti kamp pengurus kelompok anak. Dalam kamp tersebut selain mereka disegarkan dengan devosi mengenai kejujuran dan pengembangan bakat, anak-anak juga diberi materi-materi penunjang yaitu: Debating skills, writing skills dan event organizing skills. Hal ini bertujuan meningkatkan kepercayaan diri mereka dan meningkatkan kualitas kepanitiaan mereka dalam menangani acara-acara kreativitas anak yang sering mereka selenggarakan di desa masing-masing.
Ini adalah kali pertama anak-anak berdebat secara formal. Mosi yang dipakai adalah "Sidang ini percaya bahwa siswa menerima jawaban ujian dari guru saat ujian nasional diperbolehkan". Apalagi sistem yang digunakan adalah Asian Parlementary Debate, di mana setiap tim terdiri atas 3 orang, masing-masing pada tim Affirmative (pro) dan Negative (kontra). Awalnya anak-anak takut-takut mengungkapkan mengungkapkan argumen mereka. Khususnya setiap pembicara pertama tiap tim yang diberi waktu bicara lebih lama. Masalah klasik anak-anak ini adalah takut salah dan takut ditertawakan oleh teman lainnya jika mereka salah bicara. Namun, kami sepakat agar tidak ada anak yg boleh tertawa saat temannya berdebat. Dan semua anak diberi kesempatan berdebat dengan metode ini. Lambat laun, mereka mulai percaya diri sampai-sampai batas waktu bicara yang diberikan tak dirasa cukup oleh para debater cilik ini.
Bagi anak sendiri, debat memiliki daya tarik sendiri karena mereka akhirnya punya kesempatan berbicara dan mendebat pemikiran teman lainnya dengan cara yang santun. Satu hal yang sulit karena banyak anak yang terbiasa mendebat temannya bahkan sebelum temannya selesai berbicara. Melalui debat mereka juga belajar mendengar dan menghargai pendapat orang lain serta berpikir logis. Akhirnya, waktu untuk sesi debat terpaksa diperpanjang karena antusiasme anak untuk berdebat susah dibendung hehe.
Diam-diam saya merasa sedikit iri kepada mereka yang masih kecil tapi berani melawan ketakutan mereka sendiri dan berani mendebat walalupun baru saja belajar tentang apa itu debat. Saya teringat ketika saya pertama kali berdebat di kampus, di usia yang jauh lebih tua dari mereka dan bagaimana saya dan tim sampai salah mempersiapkan mosi debat karena panik yang kelewat besar.
Pengharapan saya terhadap mereka, calon-calon pemimpin masa depan ini tetap tinggi. Saya membayangkan tahun depan mereka bisa mendebat orang-orang dewasa di desa mereka saat musrenbangdes dalam memperjuangkan hak-hak anak. Mereka akan mempersiapkan 'mosi' mereka dengan baik, menyiapkan data-data pendukung tentang keadaan siswa dan gap pendidikan di desa mereka. Mereka juga akan mendebat bila ada kepala desa yang menganggap kegiatan-kegiatan yang mendukung minat dan bakat anak adalah pemborosan. Mereka juga akan memperjuangkan agar prioritas pembangunan di desa bukan hanya pembangunan fisik tapi terlebih pembangunan mental dan karakter generasi, terutama anak-anak yang rentang hidupnya lebih panjang. Mereka akan memperjuangkan agar guru-guru aktif di sekolah, agar transportasi dari rumah ke sekolah mereka difasilitasi, agar mereka tak perlu berangkat dari rumah jam 5 pagi dan tiba di rumah jam 4 sore dengan peluh dan lapar karena jarak yang jauh, agar lomba-lomba minat bakat di desa diperbanyak, agar pembinaan di sanggar-sanggar anak di desa diperbanyak, agar beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi diperbanyak.
Anak-anak layak diperjuangkan haknya bukan karena mereka objek, mereka adalah subjek perjuangan itu sendiri.
Mereka adalah Generasi Sumba Bersinar, mereka sedang berlari menuju masa depan yang bersinar.
Saturday, 5 March 2016
(Another version of) Trust is Treasure
Jam 7 suatu jumat pagi, saya buru-buru harus memenuhi janji temu
dengan seorang mitra yang tinggal agak jauh dari kantor saya. Pagi itu
teman-teman kantor masih menikmati jam olah raga pagi, sehingga saya mencari
ojek di depan kantor. Tidak jauh dari kantor, duduk di atas batu, seorang Bapak
tua berperawakan mongol berkaos putih dan celana tanggung dengan sebuah motor
di sampingnya. Dia melihat saya sambil berujar sesuatu seperti “ojek?”, walaupun
gaya Bapak tersebut agak mencurigakan, saya tetap mengasumsikan ia adalah ojek
sehingga saya meminta Bapak tersebut mengantarkan saya ke alamat yang diminta. Di
tengah perjalanan saya sempat memikirkan beberapa jurus melarikan diri dari
atas motor kalau-kalau om ojek ini bertindak macam-macam.
“Nona, ini su to dem tempat?” om ojek tiba-tiba berhenti. Saya melihat
sekeliling, Saking seriusnya saya memikirkan alternatif-alternatif penyelamatan
diri, saya tidak sadar telah tiba di tujuan.
“Benar su om, bae su” saya turun sambil merogoh dompet ingin
mengeluarkan uang.
“Biar sudah saya tunggu Nona di luar sini saja sampai selesai” Om ojek
menolak saya memberikan uang. Kecurigaan saya pun makin meruncing.
“..tapi saya masih lama om, bisa setengah jam” saya memberi alasan.
“iya, biar sudah tidak apa-apa, saya tunggu saja” Om ojek masih
ngotot. Yang membuat saya makin curiga adalah kengototannya yang agak gugup,
persis penipu. “Pagi begini masih susah cari ojek, biar su saya tunggu saja,
tidak lama” Om ojek seperti menjawab kecurigaan saya. Saya mulai menimbang-nimbang,
demi alas an kepraktisan saya malas juga harus cari ojek lagi setelah ini, lagipula
jarak dari tempat ini ke kantor saya hanya maksimal 2 kilo, dan agak ramai,
plus saya masih bisa melompat dari motor kalau dia macam-macam, plus saya
sedang membawa kunci kamar saya, yang nota bene mainan kuncinya agak runcing
dan bisa saya manfaatkan untuk mengunci gerakan om ojek ini kalau dia
macam-macam, plus alasan pembenar lainnya yang ada di kepala saya saat itu. Akhirnya
saya mengiyakan dan langsung buru-buru ke rumah mitra yang telah berjanji
bertemu dengan saya.
Tepat setengah jam setelahnya, pembicaraan itu selesai dan saya menuju
tempat tunggu om ojek. Benar, ternyata Om ojek masih ada di sana menunggu. “Sudah
selesai, Nona?” Om ojek masih sempat bertanya sebelum kami berangkat kembali ke
kantor. Di perjalanan, kecurigaan saya belum juga hilang. Dengan posisi awas saya
masih memikirkan alternatif penyelamatan diri (haha). Sambil juga memikirkan
bagaimana jika saya tiba di kantor lebih dari jam 8, yang artinya saya akan
telat, yang arti lainnya juga saya akan dipotong cuti setengah hari.
Kecurigaan dan kekhawatiran saya terhenti sejenak ketika motor
tiba-tiba berhenti. Namun alarm tubuh saya makin awas.
“Di sini di kantor to, Nona?” Om ojek menoleh. Lagi-lagi, saking
sibuknya berkutat dengan pikiran, saya tidak sadar sudah berada di depan
kantor. “Oh iya om” saya melangkah turun dan melihat isi dompet. Saya mulai panik
karena ternyata isi dompet adalah lembaran uang seratus ribuan “Wah om…maaf saya tidak ada uang kecil, pakai
uang seratus ribu boleh kah?” saya sambil membolak-balik dompet berharap ada uang
sepuluh ribu yang terselip. Tanpa ba-bi-bu, om ojek langsung membuka dompet dan
memilah-milah lembaran uang di dalamnya. Tanpa sengaja saya melirik isi
dompetnya, ternyata ada banyak lembaran seratus ribuan, lima puluh ribuan,
sepuluh ribuan, hingga lima ribuan. Saya sempat berpikiran jangan-jangan itu
semua adalah uang palsu. Namun, pemikiran itu agak sirna karena
lembaran-lembaran tersebut terlihat agak kusam, seperti hasil dari transaksi
dagang di lapangan. Saya bersyukur ada uang sepuluh ribuan di dalamnya, karena
paling tidak uang seratus ribu saya tidak akan dikembalikan dengan uang lima
puluh ribu dengan alasan tidak cukup ‘uang kecil’ (haha).
“Ini, Nona…” Om ojek menyerahkan saya sejumlah uang, saya menghitung
dengan cepat, jumlahnya Sembilan puluh lima ribu rupiah.
“eh…ini kebanyakan om,” saya mengembalikan sepuluh ribu lagi ke om
ojek.
“Tidak…tidak, pas sudah itu…terlalu banyak lagi itu…” Om ojek menolah
uang dari saya. “Pas sudah, ojek hanya lima ribu saja sebenarnya, kan hanya
dekat saja” ia memberi alasan.
“tapi tadi itu kan om tunggu selama setengah jam…” saya masih ngotot
dengan sepuluh ribu di tangan kanan
untuk diserahkan ke Om ojek. Om ojek tetap mengelak.
“…tidak bisa, Nona…itu tarif sudah itu, mana kita mau bikin-bikin tarif
lagi…pas sudah…sama saja” “……waduh, terima kasih su e, om…” dengan masih agak
bingung, akhirnya saya menarik uang sepuluh ribu itu dan menyimpan kembalian
uang sebanyak Sembilan puluh lima ribu itu kembali ke dalam dompet. Om ojek pun
akhirnya pergi setelah saya berterima kasih yang kedua kalinya.
Saya sempat menceritakan keajaiban hari itu –Om Ojek berwajah Mongol
beruang banyak-- ke beberapa teman dan iseng-iseng kami memperhatikan uang
kembalian, ternyata uang itu adalah uang asli (haha). “Mungkin pekerjaan
utamanya adalah pedagang, nyambi ojek, makanya masih pagi uangnya sudah banyak”
salah satu teman saya berkomentar. Sepulang rumah, selesai berganti pakaian,
saya masih memeriksa pakaian kantor saya, jangan-jangan ada penyadap suara yang
tertempel atau alat spionase lainnya, ternyata tida ada satu pun. Benar ternyata
bahwa Om Ojek tersebut bukanlah agen mata-mata seperti yang saya duga.
Oya, Saya akhirnya masuk kantor tepat waktu. Sambil melangkah ke
ruangan dengan kebingungan, saya masih mencerna kejadian barusan. Banyak hal
yang mencurigakan dari Om ojek tersebut, namun pada akhirnya tak satupun dari
kecurigaan saya terbukti, malah sebaliknya om Ojek bermotivasi dan berbuat baik
terhadap saya. Saya baru sadar saya belum sempat mensyukuri kejadian tadi dan
belum juga meminta maaf (kepada Tuhan) atas prasangka buruk saya.
Sekali lagi, Trust is Treasure, bijak-bijaklah meletakkannya!
Note: "Trust is Treasure" pernah menjadi judul postingan saya dengan pengalaman sejenis: http://pincekeliat.blogspot.co.id/2014/01/trust-is-treasure.htmlhttp://pincekeliat.blogspot.co.id/2014/01/trust-is-treasure.html
Saturday, 17 October 2015
Seleksi Peran Skenario A
Siang yang menyengat di pertengahan September lalu bagi saya
berkali-kali lipat dari panas yang normal. Hari itu hari Selasa. Saya berjalan kaki
hampir seperempat luas desa B. Melintasi rumah-rumah penduduk dan masuk ke
rumah-rumah tersebut secara acak, saya mendapatkan banyak cerita menarik dan
sambutan yang hangat, di satu rumah disuguhi minum teh, di rumah lain disuguhi
susu, akhirnya perjalanan tanpa sarapan dan makan siang itu tetap
mengenyangkan.
Di suatu sekolah, saya mampir untuk mengajukan kuesioner kepada
beberapa siswanya. Masuk di ruang guru, saya bertemua dengan wakil kepala
sekolahnya, Ibu S. Ia adalah wanita muda
yang bertampang agak dingin nan lempeng dot com. Di balik bahasanya yang santun
saya bertanya-tanya apa gerangan yang sedang ia pikirkan dalam hati. Saya
membayangkan sosok-sosok diplomat, ahli strategi perang hingga ilmuwan-ilmuwan
ekstrim di komik-komik dan novel-novel thriller
yang biasa saya baca.
Sambil menunggu anak-anak mengisi kuesinonernya, saya duduk di samping
Ibu S, mencoba mencari topik obrolan yang pas dengan nyerocos ga abis-abis (ya,
walaupun saya kebingungan memikirkan topik yang pas, kenyataannya kata-kata
yang keluar dari mulut mengalir lancar). Tanpa sengaja saya menyebut satu nama
teman saya yang menjadi rekan sepanitia dalam penyelenggaraan suatu kegiatan
kepemudaan di Waingapu. Ibu S tiba-tiba sangat antusias, “Itu teman saya juga!”
dia mulai tersenyum senang, “dia mengajak saya juga ikut serta dalam kegiatan
itu, tapi karena harus mengajar di sini saya tidak bisa ikut” ia berujar lagi.
Jarak dari desanya ke Waingapu memang cukup jauh dengan jarak tempuh 3 hingga 4
jam jika berkendaraan dengan motor. Ia kemudian mengungkapkan tentang mimpinya
yang banyak untuk menggerakkan pemuda di desa tempat ia mengajar. Gerakan
moral, gerakan doa, kreativitas pemuda dan lainnya. “Sudah lama saya bermimpi
untuk melakukan hal-hal tersebut, syukurlah hari ini kita bisa bertemu dan
ngobrol seperti ini” Ibu S akhirnya menyalami saya. Saya pun bersyukur di hari
yang panas itu saya tetap bersemangat berjalan kaki.
***
Sabtu sore yang teduh, saat sinyal lancar, dan berleha-leha di
Waingapu, iseng-iseng saya menelepon Bibi saya yang telah lama tidak saya sms
dan telepon. Telepon pertama saya tidak diangkat sehingga saya menelepon A,
sepupu saya yang juga anak tunggal Bibi saya ini. “Oh, Mamak lagi jauh dari
hanphone, Kak, sebentar telepon lagi, Kak, supaya kukasih tau biar diangkat” ia
menjawab telepon saya. Saya pun menelepon Bibi lagi, tidak sampai nada tunggu
ketiga, ia mengangkat telpon saya,
“Apa kabar, Nakku?” ia bertanya dari seberang sana dengan suaranya
yang anggun. Saya menjawab baik dan membeberkan kegiatan-kegiatan saya
akhir-akhir ini plus minta maaf karena sudah sekitar setengah tahun lebih tidak
menghubunginya lagi karena kelupaan. Belum lagi saya melanjutkan celotehan
saya, Bibi menangis terisak-isak di seberang sana, “Bibi pikir, Kam nggak mau
lagi nelepon Bibi…Bibi pikir selama ini Kam marah” Ia menjawab di antara isakan
tangisnya.
“Lho? Marah kenapa, Bi?” Saya kebingungan mengingat-ingat masalah apa
yang harus membuat saya marah kepadanya. Bibi pun mengingatkan saya kembali
saat ia menelepon saya di awal tahun 2015 untuk meminta bantuan sambil
menjanjikan sesuatu. Lama setelah itu dia pun tak pernah member kabar kepada
saya hingga hari saya meneleponnya di Sabtu sore itu. Saya pun menjelaskan
bahwa saya bahkan tidak pernah mengingat hal tersebut termasuk janji dari Bibi.
“Sudah, Bi, jangan pusing tentang hal-hal seperti itu, lupakan saja”
Saya menyambung sambil tertawa. Bibi pun ikut tertawa di ujung sana. Bibi
selama setahun terakhir banyak menghabiskan waktunya untuk terapi pemulihan
pasca-operasi pengangkatan tumor, ia juga bercerita bagaimana ia harus diet
makanan sehat sesuai anjuran dokter agar tumornya tidak aktif kembali. Syukurlah
saya meneleponnya hari itu, kalau saya menundanya lebih lama lagi, tak
terbayangkan berapa lama Bibi harus lelah terbeban memikirkan hal sepele yang
bahkan tidak menjadi concern saya
sama sekali.
***
Hari minggu di bulan September saya dan teman-teman mengunjungi sebuah
gereja nun jauh di balik lembah dan bukit. Terletak di sebuah dusun yang 6
kiloan jauhnya dari desa induknya, yang mana desa induknya juga sangat jauh
dari Waingapu. Tanpa memperpersiapkan apa-apa selain dari latihan grup vokal
dengan teman-teman, kami mengikuti ibadah hari itu dengan teduh. Namun, tanpa
disangka-sangka, pada saat Warta Mimbar, pelayan PGI (Pembantu Guru Injil)
mengucapkan terima kasih akan kunjungan kami dengan haru. Ia bercerita tentang
bagaimana ia menggembalakan jemaatnya yang banyak di dusun itu selama
bertahun-tahun dengan keterbatasannya. PGI lulusan SMA di Waingapu tersebut tak pernah dilatih secara khusus tentang
bagaimana cara berkhotbah, ia mempelajari Alkitab di sela-sela kesibukannya
sebagai petani. Sesekali ia diminta mengikuti rapat majelis jemaat ke gereja
pusat yang ia tempuh dengan berjalan kaki, di saat pertemuan inilah kadang ia
bisa berkonsultasi dengan pendetanya tentang permasalahan di jemaatnya yang
kompleks, mulai dari masalah kemiskinan, penginjilan dan sebagainya yang selama
ini harus ia pecahkan sendiri. Ia bertekad akan menyekolahkan anaknya
setinggi-tingginya semampunya.
***
Sebagai orang yang lumayan lama tinggal di Sumba, saya sering juga
ditanyai oleh teman-teman dan kerabat apa yang membuat saya rela dan betah
berlama-lama di sini. Sebenarnya kata ‘rela’ kurang tepat juga, karena tidak
ada hal yang terlalu besar juga yang saya korbankan untuk tinggal di sini. Kata
‘betah’ pun sama, tidak ada juga penghalang atau gangguan yang besar yang
beralasan yang membuat saya harus tidak betah ada di sini. Seorang teman
menggoda, “asik ya, bisa jalan-jalan dan senang-senang sambil bantu orang lain”
dia pasti bukan tidak sengaja meletakkan frasa ‘sambil bantu orang lain’ untuk
menunjukkan bahwa hal tersebut yang sampingan haha. Tentu saya adalah salah
satu yang beruntung bisa datang ke Sumba dengan fasilitas, dukungan dan jaminan
dari sebuah organisasi yang besar. Bisa dibilang, membantu orang lain adalah main job saya, sehingga kata ‘rela’ dan
‘betah’ kurang pas untuk pekerja seperti saya yang ‘dirawat’ secara penuh oleh
organisasi. Saya rasa alasan utamanya adalah kesempatan berharga yang tidak
kebetulan.
Entah bagaimana, saya tidak pernah direlokasi selama bertugas di
Sumba, padahal status saya adalah staf relokasi yang penempatannya selayaknya
di-rolling di berbagai kabupaten/provinsi. Saya yakin ada sebuah skenario agung
yang mana saya harus terlibat di dalamnya, entah sampai di babak berapa, tapi
selama saya terlibat di dalamnya saya harus selesaikan dengan sungguh-sungguh. seperti
melakukannya karena tugas sebagai manusia untuk memampukan manusia lainnya,
bukan karena saya bekerja di organisasi kemanusiaan. Seperti melakukannya untuk
Tuhan, bukan hanya karena alasan kemanusiaan. Dan tugas itu bukan hanya
melakukan semua kebaikan saja, tapi lebih jauh lagi, memilah kebaikan mana yang
prioritas digeluti. Semuanya baik, tapi ada yang lebih baik dan paling baik.
Melakukan kebaikan di Afrika dengan melakukan kebaikan di Sumba sama-sama baik,
tapi tugas kita sebagai pelakon skenario agung tersebut adalah memahami mana peran
yang lebih baik dan paling baik menurut Sang Sutradara Agung. Berperan bukan
berarti berpura-pura, tapi memaksimalkan potensi-potensi kita dan memfokuskan
diri pada hal yang benar-benar dikehendaki-Nya.
Hal-hal yang sepele bagi kita dan mungkin hanya berlalu begitu saja,
belum tentu dirasakan sama oleh orang lain. Banyak orang yang sudah merasakan merasakan
dampak positif dari pelayanan yang kita lakukan dengan sikap biasa-biasa saja.
Saya dapat membayangkan bila hal-hal tersebut dikerjakan dengan sikap dan
motivasi pelayanan yang luar biasa. Selamat memerankan yang terbaik!
***
Renungan pribadi yang agak terlambat untuk membuka awal tahun
fiskal ’16 organisasi (Oktober 2015 – September 2016). Biar telat ketimbang
enggak sama sekali hehe.
Wednesday, 12 August 2015
Sungai Sukacitaku
Walaupun sudah sering mandi di sungai, selalu saja ada pengalaman
berharga yang selalu saya garis bawahi. Seperti beberapa minggu lalu saat saya
tinggal di Kecamatan P dan Kecamatan K.
Selama berada di Kecamatan P, saya menginap di desa T, di rumah
keluarga salah satu tutor PAUD , Mama Adinda[1],
keluarga ini adalah keluarga yang sangat hangat, saat saya datang kebetulan
sedang masuk tahun ajaran baru, dan sebagaimana keluarga yang tinggal di ibu kota
kecamatan,keluarga Mama Adinda juga kedatangan anak-anak dari desa tetangga
yang dititipi oleh keluarganya untuk bersekolah di Desa T.[2]
Tahun ini, keluarga Mama Adinda kedatangan Rina, Tini dan Kevin[3]
yang masing-masing bersekolah di SMP.
Tibalah saatnya untuk mandi. Sesuai
saran Mama Adinda, kami akan mandi di sungai yang paling dekat rumah, letaknya
persis di belakang kebun sayur milik keluarga mereka. Dengan semangat saya
mengikuti Mama Adinda, Rina, Tini, dan Kevin. Membayangkan sungai yang
mengalir, sehabis mandi memetik sayur segar membuat saya makin bersemangat
berlari-lari menuju sungai impian. Kebun sayur terlihat makin dekat. Lalu kami
akhirnya menyusuri kebun sayur. Kami melewati beberapa anggota keluarga dari
kerabat Mama Adinda sementara menyiram sayur. Sekarang di depan kami terlihat
pagar pembatas kebun sayur.
“Su sampaaaiiiiiii!!!!!” Kevin berseru senang. Yang benar saja? Di
seberang pagar pembatas hanya ada genangan air keruh yang tingginya hanya
semata kaki. Tapi sepertinya benar karena mereka semua sudah melompati pagar
pembatas kayu setinggi betis yang jarak
kayu satu ke kayu lainnya sangat jauh. Keempat partner
‘perjalanan-petualangan-menuju-sungai’ saya sudah menjalankan ritual mandi di
sungai nan dalam di sana.
“ini su dia ini?” saya masih menunjuk ‘sungai’ yang dimaksud dengan
tak percaya kami mandi dengan ‘ditonton’ oleh penyiram sayur lainnya. Empat orang
lainnya masih asyik dengan mandinya. Genangan air semata kaki itu langsung
berubah sangat keruh ketika mereka mandi di situ. Secara teknis memang tempat
kami mandi tersebut adalah seperti aliran sungai, dan memang airnya berasal
dari sebuah sungai agak besar yang terletak kira-kira empat kilo dari tempat
itu. Tapi menurut mereka di desa itu tidak banyak pilihan cabang-cabang sungai
untuk mandi karena sungai agak besar (yang konon satu-satunya di desa T) itu
sendiri selain jauh juga sangat terbuka, sehingga kurang privat (ceileh!)
Beberapa tahun lalu organisasi kami pernah membantu mengadakan sumur
bor di desa tersebut, tapi setelah tergali sekian dalam dan tak lama setelah
mendapatkan air, sumur tersebut longsor dari pasir. Masyarakat pernah terbantu
dengan program perpipaan di desa tersebut, tapi karena masalah klasik seperti
perawatan infrastruktur, pembayaran iuran dan komite air akhirnya fasilitas
tersebut pun akhirnya seperti tidak berarti apa-apa bagi masyarakat. Ketika
saya tanyakan pendapat pemerintah lokal, mereka hanya mengendikkan bahu,
pertanda kelelahan atau skeptisme barangkali.
Pelan-pelan akhirnya saya melangkahkan kaki ke genangan air semata
kaki tersebut, mengambil air dengan gayung batok kelapa lalu mandi di sungai
impian tersebut. Benar saja, begitu saya melangkah, genangan air di
sekelilingnya langsung berubah makin keruh. Tini masih sempat mengomel, “Kaka,
kalau mau mandi, dari atas batu sa too….ini kita mau mandi langsung su keruh
memang….”. Jadi, jika ingin mandi dengan
tenang syaratnya harus jalan pelan-pelan di atas air yang lebih dangkal (yang
lebih rendah dari batas mata kaki) ke atas batu, lalu lakukan semua ritualnya
di atas sana. Saya sempat berpikir jika lain kali datang untuk membawa gayung
yang dilubangi banyak dan kecil-kecil sehingga saya bisa merasakan efek mandi
shower, sekalian supaya hemat air.
Empat hari saya di sana akhirnya saya lancar mandi menggunakan
genangan air semata kaki dari atas batu. Dan tanpa gayung-efek-shower-impian
saya. Hari terakhir, Tini mengajak saya
–meniru istilahnya Tini- ‘mandi
puas-puas’. Syaratnya harus malam-malam, “mandi di sumber air, Kaka, air besar
ini…” katanya promosi. Saya mengiyakan saja, entah sebesar apa sumber airnya,
tapi saya siap saja, karena mandi di genangan air semata kaki yang mem-PHP-kan
saya saja saya sudah berlapang dada. “Kaka siap baju-baju kalau ada yang mau
dicuci karena di sana bisa cuci puas-puas, malam-malam angin kencang begini
tidak ada orang di sana” Tini masih mengiklan.
Malamnya kami akhirnya dibonceng bergantian oleh Bapa Adinda menuju
‘air besar’, ternyata cukup jauh. Dan memang sepanjang jalan dan di sekitar
lokasi air besar terlihat sepi. Ternyata baru saja ada bayi meninggal dekat
lokasi itu sehingga banyak keluarga yang pergi mete (melayat, menunggui semalam suntuk) di rumah keluarga duka.
“Su sampaiiii!” Tini berteriak penuh suka cita. Saya hanya bengong
menatap sumber ‘air besar’ yang dimaksud. Sebuah fiber air kuning besar yang
posisinya langsung berhadapan dengan jalan raya, tanpa dihalangi oleh apapun.
Tanpa ba bi bu lagi, Tini langsung membuka sumbat pipa tempat air keluar dari
fiber tersebut dan….”Byuuuuuurrrrrr!” air mengalir deras dari pipa tersebut.
Tidak ada keran. Jadi acara mandi-mandi malam itu lebih mirip acara perang air.
Air mengenai tubuh kami seperti ketimpaan bongkahan batu es, dingin dan berat.
Dan memang mirip situasi perang karena setiap ada langkah kaki, cahaya atau
suara motor dari kejauhan, saya senantiasa was-was karena lambat bergerak
sedikit saja, keberadaan kami akan terekspos sebagai pemandi-pemandi (halah!)
Malam itu saya, Tini dan Mama Amanda pulang ke rumah dengan tubuh yang
segar karena mandi dengan sumber ‘air besar’. Tini benar tentang air besar
tersebut, karena fiber tersebut adalah bagian dari proyek perpipaan yang pernah
ada di desa T. Fiber tersebut merupakan penampung air yang seharusnya
disalurkan ke rumah-rumah sekitar, tapi karena kerusakan fisik dan mental
(manusia) akhirnya suatu waktu, air tersebut hanya berhenti di situ saja.
Keluarga Mama Amanda pun jarang mandi ke tempat ini, hanya jika mereka punya
banyak cucian dan ingin sekali ‘mandi puas-puas’ saja mereka datang ke tempat
tersebut.
***
Minggu berikutnya saya menginap di Kecamatan K. Di Kecamatan ini saya
pun biasa tinggal di posko di dekat pastori keluarga pendeta sebuah gereja. Di
sini pun saya sempat merasa di-PHP-kan oleh ‘sungai’ versi setempat. Sungai
tempat saya biasa mandi ternyata adalah bagian dari selokan, tempat air irigasi
sawah padi. Tapi ‘sungai’ ini cukup memuaskan karena saat kering pun airnya bisa
hingga sepinggang orang dewasa. Karena lokasi mandi kami terletak di bawah
pohon-pohon besar, kewas-wasan kami adalah: Pertama, ketika ulat bulu bisa
jatuh kapan saja mereka mau. Kedua, karena sawah padi juga merangkap tempat
bermain layangan dan jalan lintas kuda dan kerbau, maka ritual mandi selalu
dijaga oleh seorang mata-mata yang mengawasi para pemakai jalan yang bisa
melintas kapan saja mereka mau.
Satu kali, seperti biasa, saya mandi
sekaligus mencuci pakaian bersama para remaja SMP yang tinggal di
pastori, mereka juga adalah anak-anak dari berbagai desa yang dititip
orangtuanya untuk bersekolah SMP di Desa K, ibu kota kecamatan K. Ritual
mencuci pakaian selalu dibarengi pinjam-meminjam sikat dan deterjen (haha).
Giliran saya memakai sikat sudah selesai, sikat pun digilir ke pencuci lainnya.
Saat dengan asyik-asyik menyikat pakaian, tiba-tiba Kitty[4],
anak perempuan bungsu pendeta berseru kaget ke Rini[5]
yang sedang ‘khuyuk’ menyikat, “Ha! Itu bukan sikat pakaian, Ha!” ia menunjuk
sikat. Rini terkaget, tapi tetap mencuci. “itu sikat sepatunya Bapa!” Kitty
meyakinkan, namun tetap dengan rasa was-was. Rini dan remaja lain melihat sikat
itu lekat-lekat. Dan memang, itu sikat semir sepatu. Rini buru-buru memasukkan
sikat itu ke dalam ember. Ia melanjutkan ritual mencuci dengan mengucek semua
pakaiannya dengan tangan. Begitu pula remaja lainnya. Termasuk saya, walaupun
sudah selesai mencuci, tapi demi menegaskan bahwa saya bukan termasuk pelaku
kekeliruan massal tersebut, saya kembali
mengucek pakaian-pakaian saya. Dan tak lupa saya menambahkan, menyikat sepatu
karet saya dengan sikat gigi yang kebetulan saya bawa lebih.
Sejujurnya, selama dua hari kami semua memakai sikat sepatu tersebut
mencuci pakaian-pakaian. Walaupun sempat terbersit keherananan dalam hati, kok
bisa ya sikat pakaian selembut ini? Tapi keherananan tersebut tidak terlalu
berarti karena kami terus menyikat pakaian dengan sikat yang sama dan, tentu
saja, mempercepat kebotakan sikat sepatu tersebut.
Apapun itu, ritual mandi di ‘sungai’ pasti selalu mendatangkan
sukacita dalam berbagai bentuk.
[1]
Bukan nama sebenarnya
[2] Pada umumnya, di desa-desa wilayah
selatan Sumba Timur, SMP hanya satu ada di ibu kota kecamatan, sedangkan sekolah
setaraf SMA hanya ada masing-masing satu di sebagian kecil ibu kota kecamatan
saja.
[3]
Bukan nama sebenarnya
[4]
Bukan nama sebenarnya
[5]
Bukan nama sebenarnya
Subscribe to:
Posts (Atom)
